Kamis, 17 Januari 2008

Pecalang yang (Kadang) Garang

Garang dan sedikit arogan. Bisa jadi karena berada di balik benteng desa adat. Seringkali harus berbagi wewenang dengan aparat. Tapi tetap saja dia menuai puja-puji. Ituah pecalang.
Namanya mencuat ketika diadakan konggres PDI-P di Sanur pada 1998 silam. Keberhasilannya mengamankan konggres pada masa transisi reformasi itu nama pecalang melambung sebagai penjaga keamanan tradisional Bali. Keberhasilan ini menjadikan pecalang semakin pede untuk ekspansi ke luar wilayah adat. Kali ini Bali Travel Mart menjadi hajatan yang dijaga pecalang pada pertengahan 2000. Jika ditambah keberhasilan mengamankan pertemuan internasional di bidang lingkungan hidup, Prep-Com IV di Nusa Dua 2002 maka acungan jempol makin banyak diarahkan kepada pecalang.
Wilayah operasional akhirnya meluas. Awalnya hanya sebagai satuan pengamanan untuk desa adat. Tetapi yang terjadi belakangan, pecalang juga memasuki wilayah lain. Katakanlah, mengamankan kejuaraan bola voli, sepak bola, tajen bahkan ikut mengatur arus lalu lintas di beberapa ruas jalan Denpasar. Untuk merazia penduduk pun pecalang berada di garis terdepan. Tidak heran, pendatang di Bali lebih takut dengan razia yang dilakukan oleh pecalang daripada Satpol PP. Berbagai keberhasilan yang pernah diraih membuat pecalang menjadi sedikit arogan. Contohnya, main tutup jalan umum tanpa ada koordinasi dengan aparat kepolisian.
Pecalang merupakan seperangkat alat desa adat yang dipilih dan diangkat oleh desa adat untuk menjaga ketertiban, keamanan serta kesucian tri mandala desa adat. Pecalang jga disebut jagabhaya, yaitu menjaga desa adat manakala ada bencana alam. Secara terminologi, pecalang berasal dari kata celang yang artinya indranya sangat tajam baik penglihatan, pendengaran, penciuman, dan ketajaman berpikirnya. Kata pacelang akhirnya bergeser menjadi kata pecalang. Pecalang sendiri dapat dibedakan menjadi tiga yaitu, pecalang desa adat yang fungsinya untuk menjaga ketertiban dan keamanan warga desa adat ketika melakukan aktivitas yang menyangkut parahyangan, pawongan, dan palemahan serta mejaga kesucian tri mandala. Kemudian ada pecalang subak yaitu pecalang yang menjaga ketertiban krama subak terkait dengan aktivitas irigasi. Dan terakhir adalah pecalang jagawana yaitu pacalang yang berfungsi menjaga ketertiban aktivitas manusia.
Hegemoni pecalang memang tidak bisa dilepaskan dari euforia otonomi daerah. Pecalang menjadi sebuah konstruksi sosial yang menjawab kebutuhan masyarakat Bali terhadap rasa aman. Pasca Bom Bali I, masyarakat Bali semakin sadar akan makin berkurangnya rasa aman yang dimiliki. Aparat sudah tidak mampu menjamin ketertiban dan keamanan masyarakat. Pecalang menjadi organ alternatif. Apalagi, pecalang diberi otoritas penuh oleh desa adat.
Eksistensi pecalang semakin terasa dengan adanya Perda Nomor 3 tahun 2001 tentang desa pekraman. Dalam Bab X pasal 17 secara khusus diatur perihal pecalang. Untuk memperkuat eksistensi pecalang berbagai seminar sudah dilakukan. Seminar di Gianyar pada Juni 2001 menghasilkan sesana (etika) pecalang yang terdiri dari unduk (perihal), sesana (etika), busana, gegawan dan pasuwitraan pecalang. Dirumuskan pula tri satya pecalang. Yayasan Tri Hita Karana juga membuat seminar di kawasan Garuda Wisnu Kencana pada Maret 2002. Seminar ini merumuskan antara lain membiarkan pecalang melaksanakan tugas di luar desa adat dengan koordinasi pihak terkait. Alasannya, pecalang punya karisma.
Hasil seminar itu mengingatkan pecalang harus melakukan koordinasi dengan aparat agar tidak terjadi tumpang tindih, khususnya hal-hal diluar desa adat dan agama. Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah pendekatan yang dilakukan pecalang. Dalam melaksanakan tugasnya, pecalang hendaknya lebih simpatik dan menghindarkan cara-cara kekerasan dan arogan sehingga tetap bisa menarik hati masyarakat. Bahkan kala itu terbersit ide untuk membentuk pecalang perempuan. Semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi pecalang memaksanya untuk lebih meningkatkan pendidikan dan pelatihan yang berkoordinasi dengan aparat terkait.
Sampai disini, sebenarnya persoalan pecalang sudah bisa diatasi. Tetapi dalam tataran praktis, ternyata apa yang dirumuskan dalam seminar itu jauh berbeda. Banyak pecalang yang tidak anut pada sesana. Masyarakat menilai pecalang terlalu arogan dalam menjalankan tugasnya. Mereka menutup jalan seenaknya tanpa ada koordinasi dengan pihak kepolisian, pecalang tiba-tiba ikut jadi tukang parkir dan menarik retribusi dari masyarakat. Banyak tajen (sabung ayam) memakai jasa pecalang untuk mengamankan acaranya. Padahal menurut Prasasti Bali Kuno (Batuan), pihak yang mengurusi tajen adalah sawung tangur (petugas khusus pengamanan tajen) dan bukan oleh pecalang.
Penyimpangan sesana (etika) pecalang bermula dari proses perekrutan. Kini, perekrutan pecalang lebih dititik beratkan pada otot, rambut gondrong, suara menyeramkan dan memiliki kumis tebas sehingga terkesan angker. Padahal yang lebih dibutuhkan adalah keluwesan berpikir, kedewasaan bersikap dan menjunjung tinggi etika serta sopan santun.
Fenomena pecalang semakin menarik manakala semakin luasnya kewenangan yang dimilikinya. Adanya keterbatasan personel polisi yang untuk menjaga sebuah wilayah membuat pengamanan swakarsa menjadi diperlukan. Sehingga, dalam kondisi tertentu kehadiran pecalang justru dibutuhkan. Tetapi harus diberi pemahaman bahwa adanya pembatasan mengenai wewengan pecalang. Misalnya, hanya mengatur lalu lintas dan tidak menghentikan kendaraan seenaknya.
Sebenarnya, persoalan mengapa pecalang turun tangan menangani masalah sosial lebih disebabkan kelemahan dari aparat negara itu sendiri. Polisi dinilai tidak mampu lagi menjaga ketertiban masyarakat, membiarkan pelcauran merajarela dan semakin ruwetnya pengaturan terhadap pedagang kaki lima. Dari sini pecalang seperti mendapat ruang. Dengan bekal otonomi dan kekuatan desa adat, pecalang mulai bergerak ke wilayah sosial. Tetapi, dalam beberapa kasus, eksistensi pecalang justru menuai persoalan. Pecalang tiba-tiba menjaga kompleks pelacuran, ikut memungut retribusi parkir dan arogan terhadap penduduk pendatang. Pasca peristiwa Bom Bali I, ada stigamtisasi bahwa penduduk pendatang bagi masyarakat lokal, terutama pecalang adalah pembawa bencana. Jika ditambah dengan pelaku Bom Bali I yang bukan penduduk lokal maka antipati terhadap kehadiran penduduk pendatang menjadi lebih besar.
Apapun alasannya, kehadiran pecalang tetap memberi warna tersendiri bagi pengamanan wilayah Bali saat ini. Meskipun tumpang tindih dengan aparat, tidak sedikit pecalang yang memberikan rasa aman. Hanya saja, arogansi itu masih lebih kuat...

Rabu, 16 Januari 2008

Solusi Segera!

Denpasar akan tenggelam ke dalam lautan kendaraan! Siapa yang bisa menjamin hal itu tidak akan terjadi. Berdasarkan data yang dirilis Poltabes Denpasar, kenaikan kendaraan bermotor pertahun melebihi angka 11 ribuan. Berarti, persoalan pertransporatsian menjadi persoalan serius yang harus segera dicari solusinya.
Dengan panjang ruas jalan yang terbatas tentunya Denpasar atau Bali tepatnya perlu perubahan kebijakan sistem transportasi. Pada jam-jam tertentu, di beberapa titik di Kota Denpasar kemacetan panjang menjadi hal yang tidak terhindarkan. Lihat saja, Jalan Diponegoro, Jalan Thamrin, Jalan PB Sudirman, Waturenggong, Simpang Teuku Umar-Marlboro dan Jalan Teuku Umar Barat. Solusi yang komprehensif menjadi vital dalam kasus ini.
Beberapa kota besar sudah membuktikan, tidak adanya pembatasan kendaraan pribadi membuat sistem transportasi kota amburadul. Pembenahan transportasi massal menjadi wajib untuk dilakukan. Ingat: salah satu penyebab keengganan masyarakat untuk memanfaatkan transportasi massal adalah buruknya sistem yang diciptakan. Mereka menjadi resisten akibat kebijakan yang diambil tidak menyentuh persoalan mereka. Jika ditambah dengan buruknya pelayanan, rendahnya tingkat kenyamanan, hingga ongkos yang terlalu mahal maka lengkap sudah.
Jakarta sudah mencoba dengan busway, kereta rel listrik dan monorel. Mesikpun saat ini menimbulkan masalah, dan protes sana-sini, namun kebijakan ini sangat proyeksional. Pengambil kebijakan sudah mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi yang tercipta. Bangsa ini memang bangsa instan. Kebijakan hari ini pengennya dinikmati hari ini. Padahal untuk memperbaiki yang sudah mengakar, perlu waktu untuk mencabut akar tersebut.
Jakarta menjadi kota yang tidak bersahabat. Menjadi metropolis tetapi individualis. Denpasar akan mengalami hal yang sama. Anak SMA sudah membawa mobil, Fakultas Ekonomi Ekstensi memacetkan jalan di Jalan Sudirman ketika malam tiba. Deretan mobil di sepanjang Jalan Nias menyulitkan akses menuju Rumah Sakit Sanglah. Bukankah hal itu adalah sebuah masalah yang harus segera disolusikan?
Jika perbaikan terhadap sistem transportasi tidak dimulai hari ini, apakah menunggu Bali tenggelam dalam lautan kendaraan? Persoalan transportasi adalah persoalan budaya. Menciptakan transpotasi publik berarti membuka kembali komunikasi publik yang selama ini nyaris tertutup. Masyarakat tidak saling mengenal satu sama lain. Akibatnya, prinsip komunal yang selama ini lekat dengan bangsa ini semakin menjauh. Pengambil kebijakan harus mulai merancang strategi akan hal ini. Misalnya, penataan rute, perbaikan jadwal angkutan kota, pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi dan meniru langkah Jakarta juga bisa. Tergantung bagaimana pengambil kebijakan mengkaji masalah ini.
Catat: persoalan transportasi kota adalah persoalan mendesak. Pengkajian mengenai kondisi ini harus segera dilaksanakan. Tidak perlu menunggu kehancuran, kan? (red)

Lenyot: Buku, Diskusi dan Organisasi

Dengan gaya bicara yang kritis dan gaya penulisan yang lugas dan tajam, mengantarkan I Wayan Agus Purnomo dipercaya selama dua tahun menduduki posisi sebagai Pemimpin Redaksi Pers Mahasiswa “Akademika” Unud. Cowok yang akrab disapa Agus Lenyot, mengaku mendapat banyak hal dari Akademika.
Menurutnya, mahasiswa memang harus berorganisasi. Karena diorganisasi, individu akan ddiajak mengenal diri sendiri lebih jauh. Pengembangan wawasan dan pola pikir serta merangsang keingintahuan. Berinteraksi dengan orang, bisa jadi akan menimbulkan konflik. “Ada konflik artinya ada masalah yang harus dipecahkan. Masalah akan memaksa kita berpikir. Dengan sering berpikir dan memecahkan masalah, bukan tak mungkin akan lahir ide-ide brilian dari kaum muda,” ungkapnya dengan nada menyayangkan. Tapi kemudian, mahasiswa jarang yang ingin berorganisasi. Mahasiswa tidak mampu melihat konflik sebagai sebuah hal yang sehat.
Ketika ditanya pendapatnya mengenai organisasi mahasiswa, Agus Lenyot memaparkannya dengan sangat sistematis. Organisasi mahasiswa memang tidak ada habisnya dibicarakan oleh mahasiswanya sendiri. Menurut Lenyot, mahasiswa memang sudah kehilangan gairahnya untuk berorganisasi. “Semuanya pengen serba cepat dan instan. Akibatnya, pemikiran mahasiswa juga instan dan pendek,” ucapnya. Masalah klasikpun, seperti tak mampu melahirkan kader, tak mampu mengakomodir keinginan mahasiswa, dan konflik-konflik internal tak sempat dibereskan. “Bagaimana mahasiswa bisa memecahkan persoalan yang lebih besar jika memecahkan masalahnya sendiri dia tidak bisa,” kritiknya tajam terhadap organisasi kemahasiswaan.
Kembali dia memaparkan kalau organisasi kemahasiswaan saat ini cenderung melakukan kerja-kerja insidental alias ad hoc. Tak lagi programatik dan visioner. Dibuat saat ini untuk hanya dikerjaakan saat ini. Jarang sekali kegiatan mahasiswa yang sifatnya orientatif. Dalam artian, begitu kegiatan selesai maka semuanya selesai. “Bahkan hampir tidak ada mahasiswa yang berpikir, apa dan bagaimana sesudah kegiatan ini,” ungkap cowok kelahiran Jembrana, 6 Nopember 20 tahun silam ini.
Lalu mengapa dia hanya terkesan mengkritik saja? “Awalnya sempat tertarik untuk terlibat dalam organisasi mahasiswa di Unud. Tapi ada satu hal yang memberi kesan tidak baik,” ungkapnya. Ada satu masa saat penerimaan mahasiswa baru baik tingkat universitas maupun fakultas. Sudah bukan jamannya lagi penerimaan mahasiswa baru diisi dengan metode kekerasan, termasuk kekerasan verbal. “Seharusnya kegiatan itu lebih mengutamakan kegiatan ilmiah. Misalnya, diskusi kelompok. Apalagi Bali kan kental dengan budaya koh ngomong.”
Satu lagi persoalan mahasiswa yang perlu mendapat perhatian khusus. Membaca di luar perpustakaan dianggap aneh. Seharusnya kampus mempunyai kegiatan yang tidak jauh-jauh dari buku dan berdiskusi. “Di Unud, membaca buku di luar perpustakaan adalah hal yang aneh, berdiskusi dengan tema yang berat sedikit, ditertawakan, lalu apa maunya mahasiswa sekarang?” tanyanya heran.
Dia berharap di lingkungan Kampus Sudirman ada perpustakaan yang bisa diakses oleh mahasiswa S-1, tidak hanya untuk mahasiswa pasca sarjana. “Sangat menarik perpustakaan Bukit buka hingga sore. Tapi kan lokasinya sangat jauh. Adanya perpustakaan di Denpasar setidaknya ikut membangun iklim akademik di kampus,” ungkapnya. Dia yakin mahasiswa akan merespon positif.
Mahasiswa memang dituntut banyak hal. Termasuk peka terhadap realita sosial. “Bolehlah malam hari suka dugem, tapi siang hari tetap harus bersikap layaknya mahasiswa, menambah ilmu dengan membaca dan berdiskusi. Bila berdiskusi menjadi biasa bagi mahasiswa di Bali, dari sana akan muncul ide-ide progresif revolusioner. Dan mahasiswa tidak hanya sekadar lulus secepatnya dengan IP tinggi. “Mahasiswa harus siap menjadi pemimpin dan bukan pemimpi,” tegas mahasiswa Fakultas Hukum 2005 ini mengakhiri pembicaraan.
Intan

Tomo: Teater Tidak Sekadar Ruang Antar Peran

Ini adalah kelahiran yang salah. Terlahir bukan sebagai bayi utuh. Namun sebagai potongan-potongan daging yang terus bergerak. Dengan kidung dan mantra pangruwatan, semoga menjauh segala durjana, semoga hilang semua sial..
( Waktu Antara Kau dan Aku I, synopsis)

Secarik aksara di atas merupakan potongan dari synopsis Waktu Antara Kau dan Aku, garapan teater 108 (baca:satukosongdelapan) yang digelar Januari 2007 lalu. Di pentas ini, satu kosongdelapan mencoba untuk menawarkan bentuk proses alternatif ala karya teater modern di Bali.
Berbicara kiprah teater modern di Bali, satukosongdelapan patut diperhitungkan dalam khasanah seni peran di Bali. Sejumlah pementasan teater, entah perorangan maupun kolosal disodorkan satukosongdelapan sudah digarapnya.
Giri Ratomo merupakan awak yang bisa dibilang pentolan dari komunitas teater ini. Bersama seorang temannya Dedi Dwiyanto, Tomo-sapaannya-di tahun 2002, “merakit” perlahan cikal bakal satukosongdelapan. Awalnya bernama SatuKantong Komunitas. Baru tahun 2003, komunitas ini berganti nama menjadi satukosongdelapan, hingga saat ini.
Di komunitas satukosongdelapan Tomo beserta Dedi merancang visi untuk membangun proses teater yang segar tanpa meninggalkan tradisi seni pertunjukan yang telah ada serta membangun iklim teater modern Bali yang bergairah. Akhirnya dengan proses pergulatan kerja yang cukup alot mereka berhasil melahirkan sebuah maestro karya mereka, yakni pertunjukkan Waktu antara Kau dan Aku.
Kiprah satukosongdelapan maupun Tomo secara individual mencoba mendenyutkan kembali antusiasme dan euforia seni teater. Mengingat tak banyak teater yang secara konsisten dan giat menunjukkan karya-karya mereka di kalangan publik. Dengan kemasan yang dikolaborasikan antara perihal “kekinian” dan eloborasi seni yang inovatif, Tomo mampu memberi ruang yang berbeda bagi ruh teater modern.
“Persepsi masyarakat masih kolot akan keberadaan teater. Teater tetap dicap sebagai wahana yang tidak jelas juntrungannya kemana,” komentar lelaki bertubuh kurus ini miris. Menurutnya, kebanyakan dunia teater di Denpasar hanya diramaikan oleh teater-teater komunitas sekolah yang paling aktif mempromosikan teater.
“Kalau kita berbicara masalah untung ruginya berteater, kita bisa menawarkan kompensasi apa saja yang didapat dari berteater. Secara harfiah, teater itu khan dunia peran. Bagaimana kita memerankan tokoh-tokoh, mengekspresikannya menurut intepretasi kita dan juga menstimulasi kepekaan emosional kita. Belajar berperan juga bisa menambah kepercayaan diri kita. Nah, teater ini khan dihidupi juga dengan banyak orang. Dengan beragam karakter, beragam latar belakang dan banyak keragaman. Ketika kita sedang berkumpul, berdiskusi membahas tema toh juga akan melibatkan pandangan dan wawasan kita. jadi kita disini sama-sama belajar banyak hal,” urai Tomo panjang lebar.
Sekadar mengulas riwayat hidupnya, Tomo merupakan anak salah seorang seniman di Jawa Tengah. Ayahnya yang nyeni dan ibunya cermin wanita Jawa tempo dulu, mengalirkan kegemaran akan seni di lingkungan keluarganya. “Dulu itu waktu masih kecil saya suka ngikutin ayah untuk melukis, untuk belajar nembang, belajar gamelan dan belajar yang lain. Dulu juga saya pernah ikut pementasan Ludruk punya paman. Disana saya berperan sebagai wanita”, kenang lelaki kelahiran Karang Kemojing, 19 Desember 27 tahun lalu itu antusias.
Selama di Jawa, Tomo sempat menjadi mahasiswa Teknik Arsitektur di salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta. Tapi di tahun 1998, Tomo memilih meninggalkan kuliahnya di Jogja dan menjadi mahasiswa di Unud Bali. “Waktu itu saya lancong ke Bali pas libur ujian. Pertama nyampe di Bali kok rasanya enak. Akhirnya saya langsung main ke kampus Unud, yang ada di Sudirman. Nah, waktu saya jalan kaki dari teminal Ubung sampai Sudirman. Lumayan jauh,” kenanginya. Akhirnya, dari kampus Unud Sudirman Tomo melanjutkan perjalan ke Bukit, dengan mengendarai angkutan umum.
Kegersangan kampus Bukit justru menarik perhatiannya. Mulai saat itu muncul kecintaannya pada Unud, ia berekspresi dengan bergiat di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Ketika saya pertama kali saya kuliah di Bali, saya kok ngerasa dunia teater di Denpasar, utamanya di kampus kok nggak hidup”, kisahnya. Ketika itulah tercetus ide untuk membuat sebuah wadah seni, khususnya seni peran dan lahirnya Teater Orok.
Lelaki yang sedang menyelesaikan studi program Dokter Hewan ini masih banyak berharap akan konsistensi seniman-seniman Bali pada teater modern di Bali. “Jika teater di garap secara serius, ini akan memberikan banyak kontribusi positif yang sangat menguntungkan,” kelakarnya. Tomo berharap, dunia teater di Bali tidak hanya diriuhkan oleh komonitas-komunitas sekolah semata, namun juga ini catatan bagi semua pegiat teater maupun seniman di Bali untuk mencitrakan teater sebagai wadah yang tak hanya sekadar ruang antar peran belaka.
Ditha

Cerita dari Nungnung

Keheningan alam khas pegunungan dengan semilir angin yang mengusap setiap pori menyapa kami ketika menginjakkan kaki di sana. Kicauan burung yang terdengar nyaring memecah kesunyian tapak-tapak langkah kami. Kelelahan selama hampir 45 menit perjalanan sepeda motor terbayar lunas dengan apa yang kami lihat, dengar dan rasakan. Impas!
Itulah Air Terjun Nungnung. Namanya memang tidak sepopuler Air Terjun Gitgit yang terletak setelah Kebun Raya Bedugul dari arah Denpasar. Namun pesona Air Terjun Nungnung (yang dalam papan obyek wisatanya disebut Nungnung Waterfall) tidak kalah dengan apa yang disajikan oleh Gitgit Waterfall. Apalagi Air Terjun Nungnung tidak seramai Air Terjun Gitgit sehingga kebisuan alam serasa membawa kami ke sebuah ruang penuh kedamaian.
Terletak di desa Nungnung, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, Nungnung, begitu penduduk lokal menyebutnya, menjadi obyek wisata dengan daya tarik tersendiri. Entah dengan keheningan, kicauan burung yang mengalun merdu, atau gemericik tetes air yang jatuh dari dinding-dinding tebing. Sebagai daerah yang dikembangkan menjadi daerah agrowisata (karena berdekatan dengan Desa Plaga) Nungnung memiliki potensi sebagai pesaing Badung Selatan untuk perkembangan pariwisata Bali yang selama ini mengandalkan deburan ombak dan pasir putih untuk meanari wisatawan.
Bagi masyarakat Bali yang notabene pengguna sepeda motor secara mayoritarian, mencari Nungnung tidaklah terlalu sulit. Cukup dengan menyusuri jalan Ahmad Yani ke arah utara dengan waktu 45 menit. Begitu mencapai Pasar Petang, kita perlu melanjutkan perjalanan ke utara sekitar sepuluh menit untuk mencapaiu desa Nungnung. Memasuki kawasan Desa Nungnung, kita harus sedikit hati-hati karena bagi pengunjung yang belum pernah ke Nungnung, papan penunjuk Nungnung Waterfall tidak terlihat begitu mencolok di kanan jalan.
Nungnung terletak sekitar 500 meter dari jalan utama. Dengan hanya membayar Rp 3000 per orang untuk dewasa dan Rp 1500 untuk anak-anak kita sudah bisa memasuki kawasan Nungnung. Sayangnya, pengunjung tidak mendapatkan tiket atas uang yang sudah dikeluarkan. “Sudah biasa,” ucap pemuda tanggung dengan rambut dicat emas yang memungut retribusi itu. Padahal, menurut cerita beberapa kawan yang pernah berkunjung ke Nungnung, mereka mendapatkan tiket yang dikeluarkan oleh Desa Nungnung.
Walaupun matahari bersinar cerah, sinarnya tidak bagitu terasa menyengat akibat dinginnya hawa gunung yang menyentuh kulit. Pagi itu, hanya ada tiga sepeda motor di tempat parkir. Kami adalah pengunjung kedelapan karena di setiap sepeda motor terdapat dua buah helm. Perjalanan untuk bisa melihat Nungnung di mulai dari tempat parkir yang tidak begitu luas ini. Tangga demi tangga yang sudah menantang untuk ditapaki tidak menyurutkan niat kami. Di sepanjang perjalanan, terdapat beberapa gazebo (yang di Bali sering disebut bale bengong) sebagai tempat peristirahatan.
Tetapi, gazebo ini kadang-kadang menjadi multifungsi. Sebagai tempat peristirahatan oke, menjadi media untuk memadu kasih pun tidak masalah. Tetapi lumrahnya tempat plesiran di Indonesia, gazebo inipun tidak sepi dari tangan-tangan usil. Mulai dari yang sekadar mengukir nama, menyatakan cinta bahkan ada yang mengiklankan nomor handphone mereka.
Perjalanan ke bawah untuk mencapai Nungnung tidak sekadar perjalanan biasa. Anak tangga yang sempit dan lumutan (yang pastinya akan sangat licin di musim hujan) menjadi cerita tersendiri ketika kita menuruninya. Apalagi di beberapa lokasi terdapat beberapa anak tangga yang rusak dan besi tempat pegangan yang sudah keropos. Tidak hanya itu, pada satu titik kemiringan anak tangga yang harus kita lalui mecapai 75 derajat. Lumayan curam. Jika ditambah dinding tebing yang terlihat rapuh dengan beberapa pohon yang sudah tumbang dan siap tumbang yang seolah siap menimpa kita, romantisme perjalanan akan lebih terasa. Begitu melewati anak tangga yang terbawah, maka kelegaan terpancar di wajah kami. Nungnung sudah di depan mata. Lelah sangat!
Hebatnya, kelelahan itu dibayar lunas oleh Nungnung. Air yang jatuh dari ketinggian kurang lebih 70 meter serasa siap menimpa tubuh kami. Gemuruh yang ditimbulkan bahkan mengubur suara kami. Ketika telapak tangan kami sentuhkan ke beningnya air yang mengalir dari air terjun itu, dinginnya serasa menusuk kulit.
Khas pemandangan air terjun, nyaris tidak ada lagi yang ditawarkan oleh Nungnung. Apalagi fasilitas yang terdapat di dekat air terjun sangatlah minim. Hanya terdapat sebuah gedung tua yang bahkan tidak jelas fungsinya untuk apa. Tetapi Nungnung memberikan suasana alam yang sungguh mempesona. Kami sebenarnya ingin merasakan bagaimana rasanya air yang langsung dari sumbernya menyentuh setiap inchi tubuh kami. Tetapi, layaknya tempat asing di Bali yang bagi kami keramat, kami urung melaksanakan niat itu. Disamping karena tidak membawa baju ganti, tentunya.
Sayangnya kami tidak membawa bekal makanan. Padahal, setelah menempuh ribuan anak tangga, perut kami keroncongan minta diisi. Tapi sebotol air mineral yang kami beli dari penduduk sekitar cukup menjadi obat dahaga kami.
Setelah hampir setengah jam kami menikmati keindahan pancuran air buatan alam itu, waktunya bagi kami untuk kembali ke atas. Dan kelelahan yang kami rasakan ketika turun harus kami ulangi lagi. Bahkan, di pikiran kami sudah terlintas perjalanan yang lebih berat. Melewati titik tangga 70 derajat, keringat sudah meluncur deras di dahi kami. Dan kami harus melewatkan sepuluh menit di gazebo paling bawah. Setelah itu perjalanan kami lanjutkan untuk mencapai tempat parkir yang tiba-tiba terasa begitu jauh. Dan tampaknya, bagi mereka yang tidak pernah menggunakan ototnya, perjalanan ini adalah sebuah perjuangan. Melelahkan tetapi nikmat. Setelah melewati ratusan anak taggaa, di depan sebuah gazebo kami menemukan hembusan angin yang begitu menyegarkan pikiran. Kami lalu memutuskan untuk beristirahat agak lama di gazebo ini. Dan benar saja, view yang kami dapatkan di gazebo keempat dari atas ini sangat menarik. Di belakang kami menganga sebuah jurang dan di sekeliling kami terdengar kicauan burung yang tidak kami ketahui sumber suaranya. Tuhan, Engkau memang Maha Pencipta. Setelah puas menikmati pemandangan kami meneruskan perjalanan ke atas.
Dan ketika anak tangga terlewati, rasa puas terpancar di wajah kami.

Agus Lenyot dan Intan Paramitha

Melihat Bali Lewat Bolak-Balik Bali

Siapa yang tidak mengenal Bali. Bali dengan sejuta pesona dan semerbak candunya selalu membuat orang terpikat. Khasanah budaya dan pesona eksotis Bali merupakan magnet yang membius siapa saja untuk singgah (bahkan) menetap di pulau ini. Bagaimana tidak dengan sejuta daya pikatnya, Bali mampu meluluhkan orang-orang yang hendak berpelesir maupun bermaksud mengukir harapan. Konsistensi dan kolaborasi kultur, karakter masyarakat, keunikan tradisi dan sederet kekayaan yang melekat pada Bali melahirkan perspektif pembangunan pariwisata. Singkat cerita, Bali mulai tumbuh subur dengan pulau industri pariwisata budaya.
Namun Bali tak melulu, berkisah dengan pesona dan wisatanya yang kebanyakan dikenal pelancong maupun masyarakat “luar”. Adalah seorang putra Bali tulen yang terasa kental tertempa asam garam, seluk beluk parisolah nak bali, perihal yang mendera Bali zaman ke zamannya, Gde Aryantha Soetama. Aryantha merupakan seorang penulis dan jurnalis. Kelekatan dan kepekaannya akan tanah kelahirannya tertuang dalam bait-bait artikel yang telah ia rangkum dalam 4 buku. Basa Basi Bali (2002), Bali is Bali (2003), Bali Tikam Bali (2004) dan terakhir Bolak Balik Bali (2006).
Keempat buku ini sama-sama berkisah tentang Bali. Tetapi, lantaran bukunya yang terakhir -Bolak Balik Bali - Aryantha berhasil memenangkan sebuah penghargaan atas kritisinya akan fenomena-fenomena yang terjadi di Bali. Bolak-Balik Bali mengupas kehidupan sehari-hari manusia Bali yang memang tak kunjung habis untuk disingkap dan diperbincangkan. Buku ini juga menyodorkan sejarah akan tradisi masyarakat Bali yang sangat luhung dan digugat lagi lantaran mulai luntur tergilas peradaban.
Tulisan pertama menyuguhkan perihal Bencana yang terjadi di Bali. Bali dengan sosoknya yang unik meski dalam balutan nuansa bencana sekalipun, mohon ampun dan menggelar ritual keagamaan. “Ya, serahkan kembali ke atas dengan doa”. Begitulah orang Bali menghadapi masalah. Ketika mendapat banyak, yang terlepas pun pasti tak bakalan sedikit. kemudian tulisan-tulisan lain yang tak kalah menohoknya, bagaimana Bali mulai tergoda, bagaimana masyarakat Bali kerap ditipu dan di bohongi, kemudian tulisan mengenai Bali yang Makin Miskin dan judul-judul lain.
Pun masih ada tulisan-tulisan lain yang menggelitik. Entah menggelitik canda, menggelitik sanubari maupun menggilitik ingatan. Ada hal-hal yang kelihatan sepele di dalam buku ini, namun benar-benar menggugah. Bagaimana desakralisasi seni pertunjukkan maupun ritual-ritual sangat sulit dibendung lantaran kebutuhan pariwisata semata. Bagaimana masyarakat Bali mulai sibuk dengan rutinitasnya sebagai manusia madani kekinian dan menanggalkan kewajibannya untuk merakit yadnya. Memilih jalan yang praktis dalam memenuhi syarat kelengkapan upakara. Padahal, kesibukan majejahitan memotong janur, memetik kembang, merangkainya menjadi sesaji adalah proses penghayatan hidup.
Tingkah polah, khasanah tradisi masyarakat Bali menebar decak kagum penikmat. Beragam kisah yang tersaji lugas dalam Bolak-Balik Bali. Buku ini patut menjadi referensi bagi masyarakat Bali sendiri. Sebab inilah buku yang bolak-balik menjelajah manusia Bali, diungkap dengan tutur santun sederhana, saat mereka mesti bersiasat menjaga keseimbangan rasa dengan logika, agar pikir, kata dan tindak tak hilang arah. Sehingga tradisi terjaga, tanpa harus menjadi sosok kolot dan ketinggalan zaman. (ditha)

Mari Menggugat Demokrasi!

Demokrasi Indonesia adalah bayi kecil ajaib. Begitu diberi ruang, tingkah polahnya menjadi pongah. Fondasinya, warisan Orde Baru, kegitu kuat mengakar. Hasilnya, demokrasi menjadi semacam utopia dan lip service dari segelintir elit untuk meredam hasrat bangsa yang segera menginginkan perubahan. Dan Indonesia berjalan dalam ketertatihan akibat terkooptasinya makna (value) demokrasi.
M. Fadjroel Rahman, mantan tahanan politik Orde Baru, mengkritisi arah transisi demokrasi negeri ini. Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat, ini merupakan kumpulan artikelnya yang tersebar di berbagai media massa, terutama harian Kompas. Dalam buku ini, M. Fadjroel Rahman mengemukakan berbagai gagasan mengenai cita-cita demokrasi di Indonesia serta berbagai problematika yang menyertainya.
Salah satu bagian menarik buku ini adalah pilihan politik rakyat untuk mewacanakan menjadi Golput Aktif. Fadjroel Rahman menulis, mayoritas mahasiswa Indonesia tidak akan memanfaatkan pilihan politiknya. Argumennya; pertama, Pemilu sebagai lembaga demokrasi dimanipulasi sebagai alat legitimasi pembunuhan demokrasi itu sendiri, atau pembunuhan terhadap kriteria demokrasi paling dasar. Kedua, tahap demokrasi akan bisa diselesaikan jika rezim Orde Baru sudah tidak berkuasa lagi. Faktanya, Golkar dan PDI-P sulit dikalahkan dalam Pemilu. Ketiga, tidak ada satupun parpol yang bersedia menjalankan semua agenda reformasi, termasuk mengadili mantan Presiden Soeharto dan mengadili para jenderal pelanggar HAM berat yang dilakukan pada masa Orde Baru (hal. 27).
Meleknya pengetahuan politik rakyat diyakini juga menjadi salah satu indikasi semakin melonjaknya jumlah Golput Akif. Fenomena Golput ini bisa dilihat sebagai mosi ketidakpercayaan terhadap parpol serta gerakan rakyat untuk melakukan oposisi sosial terhadap pemerintah. Rakyat hanya memiliki legitimasi selama berada dalam bilik suara. Begitu Pemilu selesai, partai politiklah pemegang ‘kedaulatan’ negara, bukan rakyat. Menyedihkan!
Gagasan terhadap demokrasi dan reformasi total hanya dapat diperjuangkan dengan membongkar sistem fasis sampai ke akarnya. Cita-cita demokrasi tidak akan bisa diwujudkan tanpa pemutusan hubungan (cut-off) rezim anti demokrasi. Bagaimana seorang M. Fadjroel Rahman begitu getol menyuarakan pengadilan terhadap mantan Presiden Soeharto termasuk pengembalian harta kekayaan negara yang sudah dikorupsi oleh antek-anteknya. Impunitas yang dibangun negara dengan memberi Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Perkara (SKP3) menjadi sinyal lain dari kegagalan reformasi secara fundamental. Gaya penulisan yang terkesan emosinal menjadi bisa dimakulumi mengingat dia adalah satu dari sekian korban pasal subversif semasa Orde Baru. Menarik melihat bagaimana seorang M. Fadjroel Rahman dengan gayanya yang meledak-ledak, (hal ini terlihat ketika dia tampil dalam acara komedi politik Republik Mimpi) berteriak lantang dan menyatakan diri secara frontal sebagai musuh Orde Baru dan Soeharto. Pengadilan Soeharto adalah satu upaya untuk memulihkan kepercayaan warganegara kepada para founding fathers tentang negara hukum dan bukan negara kekuasaan (machstaat) (hal 73).
Fadjroel Rahman juga menyoroti perjalanan reformasi dan peta-peta politik pasca tumbangnya rezim Orde Baru. Ketegasan sikap ini dapat dilihat dalam artikel Di Bawah Bendera Oposisi (hal 88). Menurutnya, demokrasi tanpa oposisi adalah demokrasi kuburan. Tanpa kritik, tanpa alternatif dan tanpa kehidupan. Dan PDI-P dengan tegas menyatakan diri sebagai partai yang beroposisi terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Bersama Koalisi Kebangsaan, Partai Golkar, Partai Karya Peduli Bangsa, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Bintang Reformasi, dan Partai Damai Sejahtera lantang meneriakkan oposisi. Tapi apa yang terjadi kemudian? Perlahan-lahan partai pendukung oposisi rontok di tengah jalan. Partai lebih berorientasi kekuasaan. Lihat saja, Partai Golkar mundur dari Koalisi Kebangsaan setelah Jusuf Kalla menjadi Ketua Umum Partai Golkar dan PKS yang berteriak sebagai oposisi segera kandas begitu Hidayat Nur Wahid terpilih sebagai Ketua MPR. Sikap politik PDI-P pun tak jauh beda. Tanpa program prinsipil, organisasi dan kepemimpinan oposisional yang efektif dan efisien serta tanpa kabinet bayangan (hal 89). Ironis bukan?
Otoriterisme parpol, politisi saudagar, politisi yes-man/yes-mam, dan kepemimpinan militer adalah penanda tahapan baru bahwa arah demokrasi sedang terhadang oleh sebuah arus politik konservatif, feodalistik dan otoriter. Lihat, begitu mudahnya partai memecat kadernya hanya karena melakukan otokritik (lihat artikel Kritik Daku Kau Kupecat).
Dalam perspektif ekonomi, M. Fadjroel Rahman mempertanyakan banyaknya saudagar yang menjadi pimpinan partai. Hebatnya lagi yang menjadi incaran para saudagar politisi ini adalah partai-partai besar. Wajar, mengingat partai inilah yang punya suara di parlemen. Akibatnya, negara tidak lagi sekadar representasi pemilik kapital, tetapi pemilik kapital langsung mengendalikan kebijakan negara melalui eksekutif/legislatif (hal 154). Pada akhirnya kebijakan pemerintah hanya mengakomodasi kepentingan pemilik modal dan memarginalisasi cita-cita dan tujuan bangsa.
Buku ini mengungkapkan dengan gamblang realitas politik pasca Orde Baru tanpa ada tendensi terhadap pihak manapun. Kritik tidak hanya ditujukan kepada pemerintah sebagai pemegang otoritas tetapi juga kepada mahasiswa dan kepemimpinan kaum muda. Tentang tantangan yang dihadapi generasi muda dan mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan.
Buku ini bisa menjadi alternatif literatur bagi mereka yang ingin merancang strategi demokrasi dan cita-cita reformasi. Tidak hanya berpijak pada strategi politik yang konservatif dan feodalistik namun juga kebijakan politik yang visioner.
Selanjutnya, tergantung bagaimana pemegang otoritas mengambil sebuah kebijakan. Berpihak pada rakyat atau kapitalis.

Lenyot

Judul Buku : Demokrasi Tanpa Kaum Demokrat.
Tentang Kebebasan, Demokrasi dan Negara Kesejahteraan
Penulis : M. Fadjroel Rahman
Penerbit : Penerbit koekoesan
Halaman : XII+364 halaman
Tahun Terbit : 2007