Rabu, 16 Januari 2008

Lenyot: Buku, Diskusi dan Organisasi

Dengan gaya bicara yang kritis dan gaya penulisan yang lugas dan tajam, mengantarkan I Wayan Agus Purnomo dipercaya selama dua tahun menduduki posisi sebagai Pemimpin Redaksi Pers Mahasiswa “Akademika” Unud. Cowok yang akrab disapa Agus Lenyot, mengaku mendapat banyak hal dari Akademika.
Menurutnya, mahasiswa memang harus berorganisasi. Karena diorganisasi, individu akan ddiajak mengenal diri sendiri lebih jauh. Pengembangan wawasan dan pola pikir serta merangsang keingintahuan. Berinteraksi dengan orang, bisa jadi akan menimbulkan konflik. “Ada konflik artinya ada masalah yang harus dipecahkan. Masalah akan memaksa kita berpikir. Dengan sering berpikir dan memecahkan masalah, bukan tak mungkin akan lahir ide-ide brilian dari kaum muda,” ungkapnya dengan nada menyayangkan. Tapi kemudian, mahasiswa jarang yang ingin berorganisasi. Mahasiswa tidak mampu melihat konflik sebagai sebuah hal yang sehat.
Ketika ditanya pendapatnya mengenai organisasi mahasiswa, Agus Lenyot memaparkannya dengan sangat sistematis. Organisasi mahasiswa memang tidak ada habisnya dibicarakan oleh mahasiswanya sendiri. Menurut Lenyot, mahasiswa memang sudah kehilangan gairahnya untuk berorganisasi. “Semuanya pengen serba cepat dan instan. Akibatnya, pemikiran mahasiswa juga instan dan pendek,” ucapnya. Masalah klasikpun, seperti tak mampu melahirkan kader, tak mampu mengakomodir keinginan mahasiswa, dan konflik-konflik internal tak sempat dibereskan. “Bagaimana mahasiswa bisa memecahkan persoalan yang lebih besar jika memecahkan masalahnya sendiri dia tidak bisa,” kritiknya tajam terhadap organisasi kemahasiswaan.
Kembali dia memaparkan kalau organisasi kemahasiswaan saat ini cenderung melakukan kerja-kerja insidental alias ad hoc. Tak lagi programatik dan visioner. Dibuat saat ini untuk hanya dikerjaakan saat ini. Jarang sekali kegiatan mahasiswa yang sifatnya orientatif. Dalam artian, begitu kegiatan selesai maka semuanya selesai. “Bahkan hampir tidak ada mahasiswa yang berpikir, apa dan bagaimana sesudah kegiatan ini,” ungkap cowok kelahiran Jembrana, 6 Nopember 20 tahun silam ini.
Lalu mengapa dia hanya terkesan mengkritik saja? “Awalnya sempat tertarik untuk terlibat dalam organisasi mahasiswa di Unud. Tapi ada satu hal yang memberi kesan tidak baik,” ungkapnya. Ada satu masa saat penerimaan mahasiswa baru baik tingkat universitas maupun fakultas. Sudah bukan jamannya lagi penerimaan mahasiswa baru diisi dengan metode kekerasan, termasuk kekerasan verbal. “Seharusnya kegiatan itu lebih mengutamakan kegiatan ilmiah. Misalnya, diskusi kelompok. Apalagi Bali kan kental dengan budaya koh ngomong.”
Satu lagi persoalan mahasiswa yang perlu mendapat perhatian khusus. Membaca di luar perpustakaan dianggap aneh. Seharusnya kampus mempunyai kegiatan yang tidak jauh-jauh dari buku dan berdiskusi. “Di Unud, membaca buku di luar perpustakaan adalah hal yang aneh, berdiskusi dengan tema yang berat sedikit, ditertawakan, lalu apa maunya mahasiswa sekarang?” tanyanya heran.
Dia berharap di lingkungan Kampus Sudirman ada perpustakaan yang bisa diakses oleh mahasiswa S-1, tidak hanya untuk mahasiswa pasca sarjana. “Sangat menarik perpustakaan Bukit buka hingga sore. Tapi kan lokasinya sangat jauh. Adanya perpustakaan di Denpasar setidaknya ikut membangun iklim akademik di kampus,” ungkapnya. Dia yakin mahasiswa akan merespon positif.
Mahasiswa memang dituntut banyak hal. Termasuk peka terhadap realita sosial. “Bolehlah malam hari suka dugem, tapi siang hari tetap harus bersikap layaknya mahasiswa, menambah ilmu dengan membaca dan berdiskusi. Bila berdiskusi menjadi biasa bagi mahasiswa di Bali, dari sana akan muncul ide-ide progresif revolusioner. Dan mahasiswa tidak hanya sekadar lulus secepatnya dengan IP tinggi. “Mahasiswa harus siap menjadi pemimpin dan bukan pemimpi,” tegas mahasiswa Fakultas Hukum 2005 ini mengakhiri pembicaraan.
Intan

0 komentar: