Pemilihan raya atau Pemira (sebelumnya disebut Pemilu Raya) digelar sudah. Tanpa kampanye, mahasiswa tak tahu siapa-siapa yang menjadi kandidat. Namun berhasil membawa Andra Delfiandy Asra alias Sutan menjadi Presiden BEM PM Unud. (Mau) tahukah mahasiswa Unud?
Dan pesta demokrasi pun kembali berhasil terulang. Meskipun pincang dan diwarnai berbagai suara sumbang setidaknya gelaran berhasil membawa nahkoda baru bagi kekosongan pucuk kepemimpinan BEM PM Unud, selama setahun. Ya, Andra Delfiandy Asra pun menjadi Presiden BEM PM Unud yang baru. Berhasil mengeser saingan tunggalnya Choki-Jensen.
Pra Pemira tak kentara ada aura persaingan antar kandidat. Cerita menarik dari para kandidat adalah kemunduran salah satu kandidat satu hari menjelang pemilihan. Ditambah isu-isu strategi politik sempat mengiringi kemoloran jadwal pendaftaran kandidat.
Awalnya ada tiga pasangan kandidat. Andra Delfiandy Asra dari Fakultas Ekonomi berpasangan dengan Ibran dari Fakultas Kedokteran Hewan, Abrisal Pulungan alias Choki dari Fakultas Pertanian dengan wakilnya Jensen dari Fakultas Teknologi Pertanian, dan pasangan Pande Tapa Brata-Yogiswara, keduanya mahasiswa Fakultas Hukum. Dan akhirnya hanya ada dua pasangan kandidat di Pemira tahun ini akibat pengunduran diri Pande-Yogi.
Cukup disayangkan, pemilihan kali ini menyeret sejumlah pertanyaan menggelitik benak kita. Pertama, calon presiden yang mendaftar dua hari sebelum pemilihan dan pengunduran salah seorang calon pada H-1. Kemudian pelaksanaannya yang terkesan tergesa-gesa dengan publikasi yang minim, sampai kejadian yang mencengangkan, pesta demokrasi kali ini dilaksanakan tanpa kampanye, tanpa ritual pengenalan kandidat. Atau ketika kampanye tidak dilakukan, minimal calon presiden menyebarkan pamflet sebagai sebuah ajang untuk mengenalkan diri ke konstituennya.
Meskipun tak ada kampanye, menurut Wiman Wibisana, Ketua DPM Unud, toh ternyata Pemira berhasil mengundang tak kurang dari 996 rakyat Udayana untuk memakai hak pilihnya. Tak penting ada atau tidak kampanye, yang penting rakyat berpartisipasi, tambahnya. Pemilu ini berhasil meraup suara lebih banyak ketimbang pemulu DPM Mei kemarin yang notabene digelar dengan publikasi yang mewah. Namun satu hal yang harus dilihat kembali, pemilu kali ini justru lebih sedikit mahasiswa yang berpartisipasi jika dibangdingkan dengan pemilu tahun lalu yang berhasil meraup suara sebanyak 1243 dengan 29 suara tidak sah (Buletin Magang No. 2 Akademika, Edisi Februari 2006)
Bukankah kampanye merupakan bagian yang terintegrasi dari demokrasi? Dimana kampanye menjadi salah satu mediator bagi pemilih mengetahui sosok kandidatnya. Karena esensinya pemilih berhak tahu siapa-siapa saja yang menjadi kandidat. Bagaimana bisa milih kalau pemilih sendiri tidak tahu siapa yang harus dipilih. Kecuali pemilih memang telah memiliki hubungan emosional dengan kandidat. Memillih kandidatnya dengan hitungan kancing baju alias memilih seenaknya tanpa pertimbangan akan visi dan misi kandidat. Meniadakan kampanye sama saja dengan mematikan kesempatan pemilih untuk mengenal calon presiden yang pantas untuk dipilih. Hal ini tentunya bukan sebuah pembelajaran politik yang baik. Apalagi hal ini terjadi ditataran kemahasiswaan yang notabene tidak membawa kepentingan apapun kecuali kepentingan mahasiswa itu sendiri. Kalau pembelajaran terhadap demokrasi kampus tidak dimulai hari ini, apakah kita harus menunggu pemilihan selanjutnya?
”Aku nggak tahu siapa kandidatnya, kampanye semestinya ada untuk kami mengenal sosok-sosok siapa saja yang menjadi kandidat,” terang Bayu salah seorang mahasiswa Farmasi. Kampanye memang tetap diperlukan. Hal ini diungkapkan oleh Suardana, mahasiswa Fakultas Sastra 06. ”Ngapain saya ikut milih, orang kandidatnya saja saya tidak tahu!” terangnya sedikit sinis.
”Ketidakberadaan kampanye pada Pemira kali ini sebenarnya kesalahan dari kandidat sendiri,” ungkap Innu, ketua panitia Pemira. ”Waktu yang semestinya kita pakai untuk kampanye terpaksa dipakai untuk perpanjangan pendaftaran calon kandidat karena sampai hari terakhir tak satu pun yang mendaftar menjadi calon kandidat,” Ya, pendaftaran memang diperpanjang dari batas akhir pendaftaran tanggal 10 Desember menjadi tanggal 15 Desember 2007, tepatnya dua hari menjelang pemilihan. Dan alhasil kampanye tidak ada, pemira tetap jalan.
Fajar, Ketua KPM (Komisi Pemilu Mahasiswa) sendiri secara pribadi menilai, kampanye sangat penting sebagai bagian dari demokrasi itu sendiri. Namun apa daya waktu sangat mepet. Kampanye sendiri diserahkan kembali pada kandidat masing-masing berhubung waktu tidak memungkinkan untuk melaksanakan kampanye. ”Waktu tak semestinya menjadi kendala,” ujar Arif ketua SMFT. ”Kenapa harus tergesa-gesa, pemilihan raya ini seharusnya diketahui oleh seluruh civitas akademika Unud. Namanya saja pemilihan raya, apakah tidak akan menjadi sebuah ironi ketika mahasiswa Unud sendiri tidak tahu siapa-siapa saja kandidat-kandidatnya? Kampanye itu semestinya ada,” tambahnya.
Ada tidak adanya kampanye toh Pemira tetap berlangsung. Riak-riak perlawanan dari mahasiswa pun tak ada bermunculan. Memberikan kelicinan bagi jalannya Pemira. Seolah-olah Pemira dan mahasiswa adalah kutub utara dan selatan yang takkan pernah bertemu. Yang perlu digarisbawahi adalah Presiden BEM PM Unud yang baru telah terpilih. Artinya, tujuan Pemira ini memang benar-benar untuk memilih Presiden BEM, bukan sebagai ajang pembelajaran politik. Namun tahukah mahasiswa Udayana siapa pemimpinnya yang baru? ”Aku nggak ikutan milih jadi nggak tahu deh siap yang menang,” aku Erni, mahasiswa FMIPA 03. Setali tiga uang denga Erni, Ika Pradiarsa mahasiswa Fakultas Sastra 06 juga mengaku tidak memanfaatkan hak pilihnya pada Pemira. ”Aku nggak tahu siapa presiden BEM yang baru,”
Kekecewaan Pasca Pemira
Hajatan akbar untuk memilih Presiden BEM memang sudah berlalu, dan presiden pun sudah terpilih. Namun bekas-bekasnya masih renyah untuk diperbincangkan. Meskipun kenyataanya banyak mahasiswa yang memilih no comment tentang jalannya pemira kali ini. Hal ini terlihat dari sedikitnya mahasiswa yang berpartisipasi dalam pemira, setidaknya jika dikomparasi dengan total mahasiswa Unud.
Persiapan panitia Pemira bisa dikatakan tidak matang. Ibaratnya, langsung saja digoreng. Padahal Pemira adalah perhelatan besar yang (seharusnya) melibatkan seluruh mahasiswa Unud. Betapa tidak, untuk kegiatan sebesar ini, persiapannya tak lebih dari satu bulan. Panitia yang berjumlah kurang lebih 140 orang terbentuk satu bulan menjelang perhelatan. Kesiapan panitia cukup diuji dengan kemoloran pendaftaran calon kandidat. Dan ujungnya membawa Pemira tanpa sebuah kampanye. ”Kita hanya mengikuti apa yang menjadi konsep dari SC, ya kita sebagai panitia tinggal mengikuti,” kilah Innu membela diri.
Nyatanya calon-calon kandidat baru mendaftarkan diri tanggal 15, dua hari menjelang pemilihan. Dan sebuah kebetulan sematakah? Ketiga kandidat mencalonkan diri pada hari yang sama. sempat mencuat hal ini merupakan strategi politik. ”Saya daftar tanggal segitu karena tanggal 10 saya mau daftar ternyata belum ada kandidat lain yang daftar. Percuma saja saya daftar tanggal 10, toh pendaftarannya akan diundur, jadi saya daftar tanggal 15 saja,” ungkap Sutan meluruskan.
Kematangan panitia dalam melaksanakan Pemira kembali diuji dengan mundurnya salah seorang kandidat satu hari menjelang pemilihan. Pasangan Pande-Yogi mengundurkan diri. Mereka tak banyak mau bicara alasan apa yang membuat mereka mundur sebelum peperangan dimulai. ”Ada kegiatan yang lebih besar yang tidak bisa kami tinggalkan,” ucapnya ketika bertandang ke Akademika.
Di balik apa yang sudah terjadi kali ini, Arif Ketua SMFT mengeluarkan pernyataan yang cukup mengejutkan. Bahwasanya, panitia tidak mengiriminya surat pemberitahuan pemira. Bagaimana ini? Hal senada juga diungkapkan Pande Juliana. tak ada surat yang masuk ke ruangan SMFS kecuali surat permohonan ijin sebagai tempat TPS. Apalagi ke UKM, tak ada surat pemberitahuan yang masuk. Padahal jika mau menelisik, lembaga-lembaga ini sangat berpotensi untuk menjadi lidah penyambung sosialisasi Pemira ke mahasiswa-mahasiswa Udayana.
Panitia memang menyebar pamflet-pmflet. Kurang dari 500 pamflet disebar. Namun apalah fungsi pamflet tersebut jika isinya hanya mengajak mahasiswa untuk memilih namun tidak memperkenalkan siap yang harus mereka pilih. Mau milih kucing dalam karung?
Innu mengaku merencanakan inovasi baru dalam Pemira kali ini. Rencananya pemilihan akan dilaksanakan di ruangan-ruangan sehingga semua mahasiswa bisa ikut berpartisipasi. ”Kami sudah memohon ijin kepada dekan-dekan agar diijinkan mengadakan pemungutan suara dalam ruangan” ungkap Innu. Kenyataanya, pemungutan suara tak dilaksanakan di ruangan. Alhasil tak banyak mahasiswa yang berpartisipasi.
Satu hal yang menjadi syarat mutlak yang berlaku bagi semua mahasiswa agar bisa memilih adalah membawa KTM. Hal ini menurut panitia untuk menghindari penyalahgunaan suara oleh orang luar yang tidak berhak memilih. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Panitia tidak mengharuskan mahasiswa untuk menunjukan KTMnya sebelum memilih. ”Nggak kok, nggak pakai nunjukin KTM,” aku Febi salah seorang mahasiswa IKM. Yah, berbagai cara dilakukan asalkan ada yang memilih. Di Kampus Bali Fakultas Hukum, panitia bahkan sampai mendatangi pemilih yang terheran-heran dengan adanya kotak suara. ”Ada apa ini?” ungkap beberapa mahasiswa.
Sutanlah Sang Presiden
Konsekuensi sebuah pemilihan, Presiden yang terpilih mau tidak mau harus diterima oleh semua mahasiswa Unud. Rencananya Sutan akan dilantik 28 Januari ini dengan disaksikan oleh semua lembaga Fakultas. Pelantikan sendiri akan dilakukan oleh DPM. Hadirkah lembaga-lembaga fakultas ini ditengah kelenggangan hubungan antara lembaga fakultas dengan BEM Unud? ”Sudah cukup mengecewakan sekali kita tidak diberitahu tentang pemira. Kalau kita kembali tidak diundang dalam pembentukan Program Kerja BEM PM Unud satu tahun kedepan, kita bakalan tidak mau tahu urusan BEM lagi,” ungkap Arif.
Namun Sutan berencana mengundang seluruh lembaga fakultas dalam membentuk proker BEM. Sesuai dengan visi dan misinya, yang intinya ingin memperbaiki BEM namun jika lembaga-lembaga fakultas sudah tudak peduli lagi buat apa BEM dipertahankan lagi?
Mencari siapa yang benar dan siapa yang patut dipersalahkan memang terkesan tidak bijaksana. Namun, hal ini akan sangat bermanfaat sebagai sebuah refleksi ataukah otokritik untuk perbaikan kedepannya. Dan akan sangat bijaksana kita bersama-sama mau membangun BEM kembali, menyatukan aspirasi tanpa mempertimbangkan siapa yang menjadi pemimpin.
Salah satu tugas BEM adalah mengambil alih kembali kegiatan penerimaan mahasiswa baru 2008. BEM harus mampu meyakinkan semua pihak bahwa dia mampu menjadi penyelenggara kegiatan tersebut. Jangan sampai hanya jadi panitia ecek-ecek. Mahasiswa tidak hanya jadi event organizer tetapi lebih dari itu. Minimal mahasiswa ikut sebagai konseptor yang punya suara dominan. Sebab kegiatan itu adalah milik mahasiswa. Semoga pemira mengantarkan BEM PM Unud kepada sebuah perbaikan. Amin! (dwi)
Rabu, 16 Januari 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
2 komentar:
yah, mahasiswa unud meyingkapi pemilu raya presiden mahasiswa unud tidaklah terlalu antusias dan perduli karena mereka tidak mengerti,dan tidak akan mau mengerti tentang hal ini, kenapa?
dari survey dan observasi yang saya lakukan hal ini dikarenakan mahasiswa unud tidak merasa ada manfaat dengan mengambil sedikit attensi dari rangkaian pemira ini. mereka berpikir siapapun yg jadi presiden adalah orang-orang yang kurang kerjaan da hal ini pun tidak akan memberi pengaruh yang signifikan terhadap karir akademisnya di kampus palma kita ini,.
dan peilih aktif yang ikut mencoblos kemaren pun, anyalah rekan-rekan dari calon dan tim suksesnya, no more....
Btw, tukar link yuk bro..
aku link blog aka di blog q,
klian link juga ya blog q di blog ini
-s.ON.y-
seandainya calon memiliki Visi dan misi yang jelas dan memiliki Idealisme, kemungkinan besar mahasiswa lain akan ikut serta dalam pemilihan presiden bem unud.
ke depannya calon presiden harus memiliki visi dan misi yang membangun dan tidak muluk-muluk.
Poskan Komentar