Siapa yang tidak mengenal Bali. Bali dengan sejuta pesona dan semerbak candunya selalu membuat orang terpikat. Khasanah budaya dan pesona eksotis Bali merupakan magnet yang membius siapa saja untuk singgah (bahkan) menetap di pulau ini. Bagaimana tidak dengan sejuta daya pikatnya, Bali mampu meluluhkan orang-orang yang hendak berpelesir maupun bermaksud mengukir harapan. Konsistensi dan kolaborasi kultur, karakter masyarakat, keunikan tradisi dan sederet kekayaan yang melekat pada Bali melahirkan perspektif pembangunan pariwisata. Singkat cerita, Bali mulai tumbuh subur dengan pulau industri pariwisata budaya.
Namun Bali tak melulu, berkisah dengan pesona dan wisatanya yang kebanyakan dikenal pelancong maupun masyarakat “luar”. Adalah seorang putra Bali tulen yang terasa kental tertempa asam garam, seluk beluk parisolah nak bali, perihal yang mendera Bali zaman ke zamannya, Gde Aryantha Soetama. Aryantha merupakan seorang penulis dan jurnalis. Kelekatan dan kepekaannya akan tanah kelahirannya tertuang dalam bait-bait artikel yang telah ia rangkum dalam 4 buku. Basa Basi Bali (2002), Bali is Bali (2003), Bali Tikam Bali (2004) dan terakhir Bolak Balik Bali (2006).
Keempat buku ini sama-sama berkisah tentang Bali. Tetapi, lantaran bukunya yang terakhir -Bolak Balik Bali - Aryantha berhasil memenangkan sebuah penghargaan atas kritisinya akan fenomena-fenomena yang terjadi di Bali. Bolak-Balik Bali mengupas kehidupan sehari-hari manusia Bali yang memang tak kunjung habis untuk disingkap dan diperbincangkan. Buku ini juga menyodorkan sejarah akan tradisi masyarakat Bali yang sangat luhung dan digugat lagi lantaran mulai luntur tergilas peradaban.
Tulisan pertama menyuguhkan perihal Bencana yang terjadi di Bali. Bali dengan sosoknya yang unik meski dalam balutan nuansa bencana sekalipun, mohon ampun dan menggelar ritual keagamaan. “Ya, serahkan kembali ke atas dengan doa”. Begitulah orang Bali menghadapi masalah. Ketika mendapat banyak, yang terlepas pun pasti tak bakalan sedikit. kemudian tulisan-tulisan lain yang tak kalah menohoknya, bagaimana Bali mulai tergoda, bagaimana masyarakat Bali kerap ditipu dan di bohongi, kemudian tulisan mengenai Bali yang Makin Miskin dan judul-judul lain.
Pun masih ada tulisan-tulisan lain yang menggelitik. Entah menggelitik canda, menggelitik sanubari maupun menggilitik ingatan. Ada hal-hal yang kelihatan sepele di dalam buku ini, namun benar-benar menggugah. Bagaimana desakralisasi seni pertunjukkan maupun ritual-ritual sangat sulit dibendung lantaran kebutuhan pariwisata semata. Bagaimana masyarakat Bali mulai sibuk dengan rutinitasnya sebagai manusia madani kekinian dan menanggalkan kewajibannya untuk merakit yadnya. Memilih jalan yang praktis dalam memenuhi syarat kelengkapan upakara. Padahal, kesibukan majejahitan memotong janur, memetik kembang, merangkainya menjadi sesaji adalah proses penghayatan hidup.
Tingkah polah, khasanah tradisi masyarakat Bali menebar decak kagum penikmat. Beragam kisah yang tersaji lugas dalam Bolak-Balik Bali. Buku ini patut menjadi referensi bagi masyarakat Bali sendiri. Sebab inilah buku yang bolak-balik menjelajah manusia Bali, diungkap dengan tutur santun sederhana, saat mereka mesti bersiasat menjaga keseimbangan rasa dengan logika, agar pikir, kata dan tindak tak hilang arah. Sehingga tradisi terjaga, tanpa harus menjadi sosok kolot dan ketinggalan zaman. (ditha)
Rabu, 16 Januari 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar