Menjadi sopir angkot bukan lagi pilihan memilih pekerjaan. Hanya karena tidak ada lahan lain saja para sopir angkot ini masih menggeluti pekerjaannya. Sebab, wajah Denpasar sudah berubah.
Dia menyebut namanya Ketut dan tidak menyebutkan nama lengkapnya. “Sebut saja begitu. Malu saya ditanyain masalah kayak gini,” ungkapnya dengan Bahasa Bali ketika saya temui di angkot jurusan Sanglah-Pelabuhan Benoa. Sore itu saya menghentikan angkot Ketut di depan Kandang Sapi Pesanggaran. Tidak ada seorang penumpang pun di dalam angkot Ketut. “Tidak ada penumpang dari pagi. Susah sekarang nyari penumpang di jalan,” ungkapnya getir sembari kepalanya tetap menoleh ke kiri dan ke kanan berharap ada penumpang yang siap menghentikan angkotnya.
Ketut bisa menjadi satu contoh tentang kehidupan sopir angkutan kota di Denpasar. Meskipun pada awalnya dia sedikit tertutup, namun lama kelamaan suasana yang saya bangun akhirnya bisa cair juga. “Aduh, Pak, dari pagi saya hanya dapat uang lima belas ribu rupiah. Uang itu sudah habis dipakai buat beli bensin,” keluhnya. Dengan penghasilan hanya sekitar Rp 20.000 sehari, dia dituntut untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Anak saya, dua-duanya, sekarang baru SMA. Saya sering mikir, mereka bisa melanjutkan kuliah atau tidak,” ucapnya lagi seraya menambahkan kalau angkot yang dia pakai sekarang adalah milik tetangganya yang tinggal di Pemogan. Angkotnya melaju perlahan. Untunglah juragan angkotnya mengerti tentang keadaan yang ditemui para sopir di jalan. “Kadang-kadang saya tidak nyetor ke bos saya. Untungnya dia ngerti (keadaan sopir di jalan).”
Bisa jadi apa yang diucapkan Ketut adalah representasi dari kehidupan sopir angkot di Kota Denpasar, setidaknya untuk jalur Suci-Sesetan-Pelabuhan Benoa. Sepanjang perjalanan, Ketut tidak terlihat mengeluh sedikitpun meski tidak ada seorang pun yang menghentikan kendaarannya. Tapi dari sorotnya matanya, terlihat ada harapan besar untuk mendapatkan penumpang di jalan dan membawa sedikit uang untuk istrinya di rumah. Kosongnya angkot menjadikan saya lebih leluasa mengajukan pertanyaan meskipun Ketut terlihat tidak antusias menjawab pertanyaan saya. “Malu saya pulang kalau tidak bawa uang,” ungkapnya. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari tidak jarang dia narik, begitu bahasa yang digunakannya, sampai malam. “Istri saya tidak bekerja.”
Lain Ketut lain juga yang dialami Made Mudana. Di usianya yang hampir kepala enam, dia tidak surut langkah untuk melanjutkan kembali pekerjaannya sebagai sopir angkot. “Sopir yang nyewa angkot saya nggak mampu bayar setoran,” ujarnya. Ditemui di pangkalan angkot depan Asrama Mahasiswa Unud Diponegoro, Mudana menambahkan, target setoran sebesar 25 ribu tidak mampu dipenuhi sehingga sopir yang narik angkotnya angkat tangan. Mudana bercerita, dia sudah menjadi sopir angkot sejak 1970-an. “Waktu angkot masih roda tiga (maksudnya bemo) saya sudah jadi sopir angkot,” katanya.
Mudana menuturkan, narik bemo (begitu dia menyebut angkot yang dikemudikannya) sekarang sudah jauh beda, tepatnya setelah Peristiwa Bom Bali. Hanya saja setelah didesak kenapa bisa berpikir seperti itu, dia tidak mau menjelaskan secara lebih detail. “Yang pasti, sekarang penumpang sudah jarang.” Dulu dia mampu membiayai anaknya kuliah dari hasil narik angkot. Ketika ditanya anaknya kuliah dimana, dia hanya menggeleng. Tidak tahu. “Pokoknya anak saya kuliah di keguruan,” cetusnya.
Dia bersyukur anaknya sekarang sudah bekerja, jadi guru honor, sehingga sudah bisa mandiri. Jika tidak dia tidak bisa ngebayangin ngongkosin kuliah anaknya. Apalagi istrinya hanya pedagang canang. Kini, hari tuanya hanya dihabiskan dengan narik angkot.
Apa yang dialami Ketut dan Made Mudana juga dialami oleh Made Dana. Pria berambut gondrong ini bahkan menuturkan, dia sudah narik angkot sejak SMA. “Waktu itu hanya jadi kerja sambilan sepulang sekolah,” ucapnya sembari menambahkan sejak itu dia tidak lagi meminta uang kepada orang tuanya yang juga sudah berkecukupan. “Saya sempat ditawari jadi tukang sapu di kantor gubernur setamat SMA oleh ipar saya. Tetapi saya tolak karena waktu itu lebih mudah dapat uang dari narik angkot.”
I Made Dana menuturkan, sejak tamat SMA tahun 1986 hingga Oktober 2006, angkot masih dilirik oleh masyarakat kota Denpasar. Tapi sejak, Bom Bali I meledak di Kuta, jumlah penumpang angkot menurun drastis. Jika ditambah dengan pembatasan penduduk pendatang yang notabene menjadi salah satu konsumen besar sopir angkot, lengkap sudah. Tidak heran memang, jika kondisi dan nasib para sopir angkot ini tidak menjadi lebih baik. Beberapa angkot yang kami temui bahkan tidak membawa satu orang penumpang pun. Yang menggunakan jasa angkot hanya anak sekolah. Itupun hanya pada waktu tertentu dengan bayaran lebih rendah daripada penumpang biasa. Tidak heran, sopir angkot lebih sering nombok daripada pulang dengan uang di tangan.
“Dulu jadi sopir angkot penghasilannya bisa ngalahin pegawai negeri. Berani bersainglah kita dulu. Dapat duit Rp 100.000 bersih dulu sangat mudah. Tapi sekarang dapat sepuluh ribu aja sudah untung,” ungkap Ketut Puja, seorang sopir angkot ketika ditemui di kawasan Suci, Denpasar. Hal ini dibenarkan oleh Made Dana. “Bahkan tidak jarang hanya dapat Rp 5.000.”
Bagi yang memilik angkot sendiri seperti Ketut Puja, masalah setoran mungkin tidak terlalu memusingkan. Berapapun dapat dalam sehari, artinya uang itu sudah menjadi bisa dibawa pulang seutuhnya. Beda dengan Made Dana. Rata-rata uang yang harus disetor kepada pemilik angkot sebesar Rp 30.000 . Jika ditambah uang bensin sebesar Rp 40.000 maka bisa dibayangkan berapa besar uang yang dihasilkan oleh para sopir angkot. “Seringkali muter-muter tapi nggak dapat satu penumpang pun. Lihat teman saya (dia menunjuk rekannya yang baru datang sambil berdendang ‘cuma delapan ribu, cuma delapan ribu’ dengan nada riang yang dibuat-buat), dia cuma dapat Rp 8.000 habis muter-muter,” tutur Ketut Puja sambil tangannya sibuk mencoret-coret kertas sisa bungkus rokok dengan angka-angka.
Setelah terdiam beberapa lama, datang seorang sopir angkot lain. Namanya Ketut Westra. Ketut Puja lalu menyerahkan coretan angka itu kepada Ketut Westra. Togel. Sering tembus? Sambil terbahak, Puja menjawab, lumayanlah buat ngisi waktu sama nambah setoran.
Sopir-sopir angkot ini menjadi korban dari semakin banyaknya jumlah kendaraan pribadi di Kota Denpasar. Konsumen angkot hampir semua sekarang beralih menggunakan sepeda motor. Kemudahan mengkredit sepda motor ditengarai menjadi penyebabnya. Hal ini dibenarkan oleh para sopir itu. Bahkan, mahasiswa Unud yang dulunya sering menggunakan jasa angkot sebagai kendaraan ke Bukit kini hampir semuanya memakai sepeda motor. “Kalau mereka tidak bawa sepeda motor, ya numpang teman,” kata Made Dana. Waktu angkot masih jaya, dia bisa bolak-balik empat kali ngangkut mahasiswa ke Bukit.
Ada hal menarik yang diungkapkan oleh Made Dana ketika sopir angkot masih berjaya. “Kalau dulu berani main judi (metajen, sabung ayam) setiap enam bulan sekali. Uang hasil narik masih bisa digunakan untuk minum-minum. Tentunya setelah setor ke istri sebanyak Rp 20.000 sedangkan sisanya sebesar Rp 30.000 kita yang pegang. Makin hari kan makin banyak. Kasarnya, dulu berani ngekosin cewek dan menghidupinya. Tapi sekarang mana berani ngelakuin hal itu karena memang nggak ada biaya untuk itu.” Masih untung bisa menghidupi anak-anak yang masih kecil, tambahnya.
Ketut Puja menjadikan angkot sebagai tumpuan terakhir setelah tidak ada pekerjaan lain yang bisa dilakoninya. Setelah sempat berhenti jadi sopir angkot selama hampir lima tahun, Puja akhirnya memutuskan kembali ke pekerjaan lamanya sekitar 6 bulan yang lalu. “Tidak ada pekerjaan lain yang saya bisa,” pungkasnya. Apa saja yang dilakukan selama nganggur? “Metajen!” jawabnya singkat. Tetapi ada satu hal yang dia syukuri saat ini. Anaknya sudah tamat SMA. Setidaknya hal ini meringankan bebannya. Dia tidak membayangkan harus membayangkan jika masih ditambah dengan mengongkosi anaknya sekolah. Hal yang harus dialami Ketut Westra. “Anak saya sekolah di Dwi Jendra. SPP-nya saja Rp 185.000. belum lagi uang lain-lain. Istri saya hanya jualan nasi Jinggo di Jalan Diponegoro,” ucapnya dengan keras. Entah marah atau semangat karena keluhannya ada yang mendengarkan. Westra bahkan sedikit promosi tentang nasi jinggo yan g dijual istrinya. “Sering kok mahasiswa yang nongkrong-nongkrong di tempat istri saya.”
Seperti halnya sopir angkot lain, Ketut Westra dan Ketut Puja menghabiskan siang yang terik itu sambil ngobrol ngalor-ngidul di samping angkot mereka. Bercanda dan sesekali menertawakan nasib. Entah kapan seorang penumpang melambaikan tangan buat menggunakan jasa mereka. Sebab, ribuan kendaraan roda dua sudah memadati setiap ruas aspal di Denpasar. Entah kapan...
(Lenyot)
Rabu, 16 Januari 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar