Rabu, 16 Januari 2008

Ojek-Ojek Bertekad Mengubah Nasib

Menjadi tukang ojek bukanlah sebuah pilihan. Hanya karena tidak ada pekerjaan lainlah mereka terpaksa melakoninya. Apalagi hasilnya juga tidak seberapa. dan kehidupan mereka semakin terpuruk akibat gempuran kendaraan roda dua.
Sore itu duduknya termangu. Sendirian menunggu. Berharap ada penumpang yang akan menggunakan jasanya. Padahal di tempatnya mangkal, di sebelah SMA 2 Denpasar, ketika kami temui awal Pertengahan Desember ini, tidak ada tukang ojek lain. Tetapi hingga petang beranjak malam tak ada satupun yang memakai jasanya. Dan kami seperti mendapat peluang untuk mengajaknya ngobrol lebih jauh. Meskipun ketika kami dekati, sikapnya terlihat tidak bersahabat, tetapi dia mau juga menerima ajakan kami untuk ngobrol.
"Saya jadi tukang ojek sudah hampir lima tahunan. Sebelumnya saya sempat jadi sopir angkot, buruh di toko bangunan dan kerja serabutan," ucapnya. Dia bercerita waktu jadi sopir angkot seringkali dia tidak mampu memenuhi uang setoran. Lalu dia banting setir jadi buruh di toko bangunan. Tetapi hasil keringatnya ternyata tidak mampu mencukupi untuk menopang kehidupan keluarganya. Lalu dia kerja serabutan. Mengerjakan apa saja yang orang minta kepadanya. Bekerja seperti itu malah membuat penghasilannya menjadi lebih tidak menentu. Dan setelah berpikir beberapa lama, dengan motor Astrea Prima keluaran 1990-an dia memutuskan menjadi tukang ojek di sebelah SMA 2 Denpasar. Kenapa memilih pekerjaan ini? "Lebih santai," jawabnya singkat sambil tersenyum.
Wayan Sami menuturkan dirinya berasal dari Karangasem. Tapi dia lupa sejak kapan hijrah ke Denpasar. "Sudah lama," katanya. Bersama dengan istri keduanya, istri pertamanya sudah meninggal dunia, dia menyewa rumah kos di Jalan Waturenggong. Anaknya empat, dua dari istri pertama dan dua dari istri kedua. "Untunglah anak saya yang paling besar sudah bekerja. Jadi tidak terlalu banyak tanggungan sekarang," tuturnya. Anak ketiganya sekarang masih duduk di kelas 1 SMP 6 Denpasar. Dengan penghasilan yang tidak menentu dia harus berusaha menyekolahkan anaknya. "Biasanya saya beri dia uang saku sebesar 3000 rupiah," katanya menanggapi apa cukup penghasilannya untuk menghidupi keluarganya.
Wayan Sami tidak menampik kalau banyak masyarakat menilai biaya sewa ojek mahal. "Mau gimana lagi. Kalau tidak begitu, saya tidak bisa makan." Dia menambahkan, sekarang tergantung penumpangnya bagaimana nawarnya. "Tidak saklek kok, mematok harga," kilahnya. Toh, meskipun banyak yang menilai ongkos sewa ejok mahal, setiap hari ada saja yang menggunakan jasanya. "Belum pernah saya sehari tidak mendapatkan satu orang penumpang." Meskipun begitu, uang yang dibawa pulang juga palng banyak Rp 25.000. "Inilah risiko hidup," katanya sedikit filosofis. Selama hampir setengah jam kita ngobrol, kelihatannya belum ada tanda-tanda penumpang yang akan menggunakan jasanya. Beberapa saat sebelum kami pergi, terlihat satu orang koleganya datang dari mengantar penumpang.
Apa yang dialami oleh I Wayan Sami juga terjadi pada nasib I Nengah Kantun. Teriming-iming dengan gemerlapnya kehidupan di kota Denpasar, pada 1990 dia hijrah dari Desa Sengkidu ke Denpasar. Kilauan lampu di kota di kota sempat menyilaukan penglihatannya. Dia ingin mencari penghidupan yang lebih baik ketimbang di desanya. Berkat bantuan salah seorang familinya, Nengah Kantun bekerja di toko di Jalan Kartini. Tetapi karena tidak betah bekerja di toko, dia lalu memilih kerja serabutan di Pasar Sanglah, meskipun hanya sebagai buruh angkut barang. "Meskipun bekerja kasar, saya lebih menyukai kerja serabutan daripada harus kerja di toko," ucapnya. Bosen bekerja serabutan, dia lalu banting setir menjadi buruh bangunan. Tetapi pekerjaan yang satu ini juga tidak mampu bertahan lama. Karena sudah lama jadi buruh angkut di Pasar Sanglah, dia lalu memutuskan menjadi tukang ojek di sana. Jadilah sejak pertengahan 1990-an dia sudah mangkal di Pasar Sanglah.
"Kalau dulu jadi tukang ojek, pelanggan yang datang banyak. Tapi uang yang kita terima sedikit. Beda dengan sekarang yang meskipun penumpangnya sedikit tapi bayaran yang kita terima juga besar," kisahnya. Menurutnya, dulu jadi tukang ojek capek sebab yang datang bisa mencapai dua puluh orang dan bayarannya sedikit. Berbeda dengan sekarang, bayaran tukang ojek lumayan mahal.
Namun dia mengakui, penumpang ojek semakin sepi dari tahun ke tahun. "Sekarang kita hanya mengandalkan penumpang-penumpang yang malas naik bemo dua kali. Ada juga penumpang yang malas menunggu bemo penuh. Jadi pelanggan yang kepepet lebih memilih naik ojek karena lebih praktis dan efisien. Begitulah pengakuan penumpang," tuturnya panjang lebar. Dia juga mengeluhkan harga ongkos taksi yang makin bersaing dengan ojek. Ada beberapa penumpang yang lebih memilih naik taksi daripada numpang ojek. Harganya juga tidak jauh beda. "Naik ojek kan menakutkan kalau lagi nyalip-nyalip. Jadi penumpang yang pengen lebih aman biasanya lebih memilih menggunakan taksi," terangnya.
Meskipun penghasilannya hanya berkisar diantara Rp 25.000 toh dia bisa menyekolahkan anak keduanya di Sekolah Perhotelan Bali di Jalan Kecak. Untuk uang kuliah saja dia mengeluarkan kocek hampir sebesar 19 juta rupiah. Tetapi dia tidak menjelaskan darimana dia mendapatkan uang sebesar itu. Anaknya yang pertama sudah bekerja di restoran sedangkan istrinya bekerja sebagai pedagang canang di Pasar Sanglah. Dan meskipun hidup semakin keras dia harus tetap bekerja keras menghidupi keluarganya. "Sekarang tinggal di Sesetan. Tanah ngontrak dengan rumah bedeg," katanya menutup perbincangan.
Namun, berbeda dengan I Wayan Sami dan I Nengah Kantun, kepergian I Wayan Sudita dari Kediri, Tabanan ke Denpasar dengan tekad kuat untuk memperbaiki nasib. "Maklum, saya hanya tamatan SMP. Jadi saya bertekad agar anak-anak saya bisa sekolah tinggi. Syukur-syukur bisa jadi sarjana," tuturnya ketika ditemui di Pos Ojek Pasar Sanglah. Dan hebatnya dia berhasil menyekolahkan anaknya sampai lulus perguruan tinggi. "Anak saya yang pertama sudah kerja di FIF. Dulunya dia kuliah di Fakultas Teknik jurusan Teknik Mesin Unud. Sedangkan anak sya yang kedua masih kuliah di Fakultas Teknik jurusan Teknik Sipil. Tapi dia sudah mau lulus," ucapnya berbangga. Lalu dia bercerita, semuanya anaknya mendapatkan beasiswa sehingga dia tidak perlu keluar uang banyak untuk menyekolahkan mereka. "Pinter-pinter mereka itu," pujinya. Dia menuturkan, awalnya anak keduanya mau kuliah di jurusan kedokteran. Tapi lewat jalur PMDK, anaknya gagal dan diterima di pilihan kedua, Teknik Sipil. Tahun berikutnya, anaknya kembali mencoba nyari Fakultas Kedokteran lewat SPMB tetapi gagal lagi. Sehingga. Anaknya memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Teknik Sipil.
Sebagai orang yang berpendidikan tidak terlalu tinggi dia sangat bangga dengan kedua anaknya. Dia menuturkan, pertama kali tiba di Denpasar, dia bekerja di PT Sampoerna, bagian gudang. Tapi karena usianya sudah beranjak tua, maka dia memutuskan untuk berhenti dari PT Sampoerna. Karena pengabdiannya di sana, dia dipercaya untuk menempati semacam rumah di Jalan Pulau Solor, Denpasar yang diperuntukkan bagi karyawan PT Sampoerna. "Untungnya saya diberi rumah gratis. Jadi saya tidak perlu repot memikirkan sewa rumah dan bayar listrik."
Dan untuk mengisi hari-harinya, dia menarik ojek di Pasar Sanglah. "Biasanya saya bekerja dari jam enam sore sampai jam sepuluh malam," ucapnya seraya menambahkan sampai dengan saat kami wawancara dia belum mendapatkan satu penumpangpun. Istrinya bekerja di Alfa Supermarket Diponegoro. Tapi berhubung Alfa sudah mau tutup, istrinya tidak bekerja lagi. "Mungkin setelah istri saya tidak bekerja, saya akan narik dari pagi."
Dengan penghasilan sekitar 25.000 rupiah sehari dia mengaku tidak cukup untuk menghidupi keluarganya. Tetapi dia punya usaha lain untuk nambah-nambah biaya hidup. Ketika disinggung lebih jauh usaha apa yang dia kelola, dia hanya tersenyum tanpa memberikan penjelasan lebih jauh.
Ada satu benang merah yang bisa ditarik dari Wayan Sami dengan I Nengah Kantun. Menurut mereka, mudahnya masyarakat mengkredit sepeda motor ditengari menjadi penyebab semakin sedikitnya warga yang menggunakan angkutan umum. Bisa jadi ini bentuk kekecewaan terhadap pemerintah yang tidak mampu menyediakan angkutan transportasi massal yang aman, nyaman dan terjangkau. Akibatnya, tidak jarang tukang ojek menaikkan ongkos secara sepihak akibat maikn sepinya penumpang. "Bayangi, dengan uang 500 ribu aja sekarang sudah dapat motor," ucap Wayan Sami. Meskipun gejala ini menunjukkan meningkatnya taraf hidup warga kota Denpasar tetap saja hal ini memberi efek luas buat kehidupan kota Denpasar.
Jalan-jalan di beberapa titik pada jam-jam tertentu macet total. Belum lagi pemakai sepeda motor yang uagl-ugalan. Tidak jarang ditengah kemacetan sering menyerobot hak pejalan kaki dengan mengendarai sepeda motor di trotoar. Kelihatannya, Pemerintah Kota Denpasar harus secepatnya menanggulangi masalah ini. Jika dibiarkan berlarut-larut bukan tidak mungkin Denpasar harus menjadi Jakarta kedua. Dan para tukang ojek ini juga akan semakin termaginalkan. Kasihan...

0 komentar: