Hidup memang bukanlah sebuah pilihan tetapi kehidupan selalu menghadapkan kita pada pilihan-pilihan. Kata seorang bijak, keberanian untuk menentukan pilihan itu memang penting tetapi jauh lebih penting keberanian untuk melaksanakan pilihan yang sudah kita tentukan. Dengan segala risiko yanng akan kita hadapi.
Itulah yang sedang kami alami. Setelah tidur lumayan panjang, akhirnya kami berhasil juga menerbitkan Tabloid Akademika edisi 53 dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Setelah pada kepengurusan sebelumnya kami hadir dengan format buletin bulanan, kini kami kembali ke pakem lama bernuansa konvensional. Hal ini kami lakukan tidak semata-mata menjaga brand image Akademika yang lebih dikenal dengan tabloid. Bukan karena kami menafikan perubahan tetapi kami ingin memperkuat citra kami dulu di mata pembaca sekalian. Kami juga ingin menghemat energi mengingat setumpuk agenda sudah menanti kami ke depannya.
Jujur, pilihan kami untuk bergelut di dunia jurnalistik menimbulkan romantisme tersendiri di sebagian awak kami. Entah ada yang merasa diacuhkan, disindir orang tua bahkan sampai dengan dilarang orang tua untuk datang ke rumah kedua (kami menyebut Akademika dengan rumah kedua). Namun, kami menikmati fase-fase ini. Relasi antarkawan yang tidak sekadar tertawa bareng tetapi juga penuh dengan dinamika positif yang harus dipecahkan bersama. Inilah kami. Perjuangan khas idealisme anak muda dengan semangat perlawanan yang diusung. Kami senantiasa mentransformasikan semangat perlawanan ini ke dalam energi yang positif (mudah-mudahan!). Entah itu dengan diskusi ringan sampai dengan obrolan rencana kerja kami ke depannya dan konkretnya tabolid yang kawan-kawan hadapi sekarang. Kami berpikir, untuk memulai sesuatu yang besar kami harus mulai dari lingkungan yang paling kecil. Kami harus bisa menyelesaikan masalah internal sebelum membicarakan masalah yang lebih kompleks. Jika tidak, akan muncul gugatan: menyelesaikan masalah dalam skala kecil saja tidak mampu apalagi menyelesaikan permasalah dalam skala kompleks?
Hal yang membuat kami terlecut untuk terus bernafas adalah makin minimnya antusiasme mahasiswa untuk bergelut dengan dunia pers mahasiswa. Lihat saja, hampir semua penerbitan pers mahasiswa yang ada di Bali, khususnya di Unud perlahan-lahan kolaps. Dan kami berharap, kita semua tidak akan mati pelan-pelan. Dan kami merindukan aktivitas mahasiswa yang penuh dengan diskusi atau forum ilmiah. Tidak sekadar kuliah, lulus dan cari kerja atau jadi pekerja. Dengan organisasi, yang entah apapun basis dan genrenya, kami berharap Unud bisa menjadi pioner kebangkitan mahasiswa. Kata M. Fadjroel Rahman, kritisisme adalah tantangan mahasiswa kekinian. Dan hal itu menjadi masalah kita bersama. Kami tidak berharap muncul stereotif di masyarakat: kampus sudah menjadi menara gading
Untuk itulah kehadiran pengurus baru diharapkan membawa angin segar untuk kemajuan Akademika ke depannya. Dinginnya hawa Plaga mengantarkan Intan Paramitha Apsari, mahasiswa Fakultas Pertanian 2005 sebagai Pemimpin Umum yang baru. Sedangkan untuk Pemimpin Redaksi masih dipercayakan kepada Agus Purnomo, mahasiswa Fakultas Hukum 2005. Ditambah dengan darah segar di jajaran pengurus, kami berharap ada spirit lain yang terus dikembangkan.
Edisi ini kami menghadirkan tema, Di Balik Sistem Tranportasi Kota Denpasar. Ide ini muncul disebabkan obrolan ringan di awak redaksi mengenai semakin tingginya volume kendaraan pribadi di kota Denpasar. Beberapa ruas jalan penuh sesak dengan sepeda motor dan mobil. Volume kendaraan meningkat sementara luas jalan tidak bertambah mengingat kondisi geografis Bali tidak memungkinkan untuk pertambahan itu. Yang menjadi pertanyaan kami: bagaimana nasib angkutan umum yang masih beroperasi di Kota Denpasar? Masihkah para sopir itu bisa menghidupi keluarganya ditengah semakin kerasnya himpitan hidup? Atau bisakah anak-anak sopir itu mendapatkan kesempatan untuk menikmati pendidikan dengan layak di tengah makin melambungnya harga sebuah pendidikan? Itulah yang kami kemas ke hadapan pembaca sekalian. Bahwa masih banyak sisi lain dari kota Denpasar yang butuh perhatian.
Untuk laporan khusus, kami mengangkat tema seputar Pemilihan Raya yang baru dilaksanakan akhir Desember lalu. Selain itu kami juga menghadirkan wawancara dengan I Wayan Gendo Suardana, salah satu pentolan aktivis HAM Bali.
Selain itu kami juga mengangkat tentang keberadaan mahasiswa asing di Unud. Kami ingin mengetahui alasan mereka melanjutkan pendidikan di Indonesia yang notabene kita tahu sistem pendidikannya tidaklah sebagus beberapa negara tetangga.
Itulah sekilas isi tabloid ini. Lebih lengkapnya pembaca bisa simak dengan lebih seksama. Kami sangat berharap tabloid ini bisa menjadi bahan bacaan alternatif buat kawan-kawan mahasiswa. Kami senantiasa ingin menjadikan kampus sebagai kawasan akademik tempat lahirnya orang-orang kritis dan bukan sekadar manusia-manusia pekerja. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran konstruktif untuk kemajuan kita bersama. Tabik!
Rabu, 16 Januari 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar