Bagaimana rupa dari dunia seni rupa di Bali? Mungkin tak banyak yang tahu dan tak kalah banyak yang tidak mau tahu. Namun, tentunya hal itu tidak terjadi pada Wayan Kun Adnyana, lulusan cum laude STSI (sekarang ISI) Denpasar ini. Kun yang merupakan salah satu perupa muda Bali telah mengamati, menelaah, menyelami pun mengkritisi perjalanan seni rupa Bali dari jaman ke jaman dan membingkainya dalam bentuk buku. Nalar Seni Rupa (Refleksi Kritis Seputar Seni Rupa) merupakan kumpulan artikel kritis menyoal seni rupa serta perupa Bali dalam fenomena sosiokultural hingga ranah politik yang membawa imbas besar terhadap eksistensi dunia seni rupa itu sendiri.
Buku karya Kun ini memilah persoalan seni rupa Bali dala empa sub bahasan, yakni pandangan penulis sendiri akan perkembangan serta konflik yang dihadapi estetika Timur (baca: Asia) dalam perupa nusantara dan kaitannya dengan perjalanan panjang seni rupa Bali yang terdapat dalam Layar Nalar Estetika. Kemudian subbab Beban “Garis” di Kampus Seni yang secara gamblang menyoal pergulatan para “perupa akademis” dalam pencarian jati diri sebagai pelukis, serta peran kampus dalam pengorbitan perupa muda. Kun juga menunjukkan apresiasinya terhadap para pendahulunya dalam ‘Mengenang yang Pulang’, dan terakhir mengungkap kegelisahan insan seni rupa akan masa depan seni rupa Bali di tengah deras persaingan dengan perupa lura melalui ‘Seni Rupa Bali: Diantara Stagnansi dan Reputasi’.
Topik yang diangkat Kun dalam buku ini boleh dibilang memang benar-benar terjadi dalam seni rupa Indonesia. Tengok saja salah satu artikel yang berjudul ‘Ketelanjangan dalam Wajah Seni Rupa Kita’. Disini Kun berusaha memaparkan bagaimana estetika ketelanjanganyang telah mengakar pada budaya seni rupa sejak zaman prasejarah kini berada di bawah bayang-bayang Rancangan Undang-Undang Anti Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). RUU ini merupakan usaha pemerintah untuk ‘membunuh’ aspek telanjang dari dunia seni berkreatif. Penulis pun mempertanyakan bagaimana ‘Pinkswing Park’ karya Agus Suwage dan Davy Linggar dianggap melanggar kesusilaan, tanpa menengok sedikitpun konsepsi yang melatari karya tersebut.
Dalam artikel-artikel lain, Ku berusaha memaparkan wilayah seni rupa kekinian yang diwanai oleh komersialitas. Stagnansi ide, penjiplakan serta penyempitan media untuk berkarya adalah sederet persoalan. Tidak luput juga berbagai teror serta monopolitik pelaku, ideologi, estetika yang dicekokkan sebuah rezim otoriter telah menenggelamkan para perupa muda kreatif yang sempat euforia diawal 1990-an. Kun juga merujuk pada berbagai fenomena yang muncul akibat teror serta komersialitas tersebut seperti peralihan aliran lukisan pasca Bom Bali I dan II dari seni lukis tradisional ke aliran abstrak yang harganya murah, diminati wisatawan dan asal ditukar dengan dolar.
Hal lain yang menarik adalah perempuan menempati suatu tenpat yang istimewa dalam dunia seni rupa Bali. Hal ini tercermin dalam artikel ‘Menguak Perempuan Penanda Jaman’. Meskipun sejarah kelam perlakuan diskriimnatif atas perempuan Bali sudah mewarnai peradaban Bali di masa lalu, namun hal itu bukanlah suatu alasan untuk memarginalkan posisi wanita dalam ranah seni. Dengan emansipasinya yang mulai terdengar kencang pada tahun 1930-an, perempuan-perempuan Bali mampu menunjukkan eksistensinya melalui pencapaian karya seni. Sederet nama disebut Kun sebagai perempuan dengan energi jiwa-jiwa indah yang telah meramaikan jagat seni. Misalnya, Ni Reneng, Ni Ketut Cenik, Cok Sawitri, Oka Rusmini dan I GAK Murniasih (alm). Mereka, menurut Kun, adalah bukti dan saksi bahwa pemaknaan laki-laki dengan perempuan adalah sama dalam altar kesenian Bali.
Dalam buku pertamanya ini Kun bernostalgia akan kejayaan masa lalu para seniman tua., pencapaian luar biasa yang telah mengangkat dunia seni Bali hingga memperoleh pengakuan dunia internasional. Penulis pun menuntut para perupa muda untuk menghasilkan karya yang mampu disetarakan dengan para pendahulunya. Kun cenderung membandingkan pencapaian kedua generasi ini dan seolah menghakimi perupa muda yang notabene belum mampu menyaingi perupa sekaliber Ida Bagus Gelgel atau Gusti Nyoman Lempod. Sebuah motivasi yang bagus untuk membangkitkan kejengahan para perupa muda dalam berkreasi. Sayangnya motivasi ini tidak dibarengi ruang bagi perupa muda untuk sekadar membela diri sebab setiap jaman memiliki masa keemasan sendiri dan setiap seniman memiliki standar dan pandangan pribadi sejauh mana pencapaian dapa disebut masa keemasan.
Gaya menulis Kun dapat diacungi jempol dalam konteks perupa. Kemampuannya ini menjadi nilai tambah bagi buku yang diperuntukkan bagi semua kalangan, terutama yang menaruh perhatian terhadap seni rupa Bali. Terlepas dari kekurangannya, buku ini bisa menjadi sebuah oase jawaban bagi pelaku, penikmat, pun pengamat seni yang menaruh tanya di benaknya, bagaimana rupa dunia seni rupa Bali selama ini. (sri)
Data Buku
Judul : Nalar Seni Rupa (Refleksi Kritis Seputar Seni Rupa Bali
Penulis : Wayan Kun Adnyana
Penerbit : Arti Foundation, September 2007
Tebal : viii + 96 hal.
Rabu, 16 Januari 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar