Denpasar akan tenggelam ke dalam lautan kendaraan! Siapa yang bisa menjamin hal itu tidak akan terjadi. Berdasarkan data yang dirilis Poltabes Denpasar, kenaikan kendaraan bermotor pertahun melebihi angka 11 ribuan. Berarti, persoalan pertransporatsian menjadi persoalan serius yang harus segera dicari solusinya.
Dengan panjang ruas jalan yang terbatas tentunya Denpasar atau Bali tepatnya perlu perubahan kebijakan sistem transportasi. Pada jam-jam tertentu, di beberapa titik di Kota Denpasar kemacetan panjang menjadi hal yang tidak terhindarkan. Lihat saja, Jalan Diponegoro, Jalan Thamrin, Jalan PB Sudirman, Waturenggong, Simpang Teuku Umar-Marlboro dan Jalan Teuku Umar Barat. Solusi yang komprehensif menjadi vital dalam kasus ini.
Beberapa kota besar sudah membuktikan, tidak adanya pembatasan kendaraan pribadi membuat sistem transportasi kota amburadul. Pembenahan transportasi massal menjadi wajib untuk dilakukan. Ingat: salah satu penyebab keengganan masyarakat untuk memanfaatkan transportasi massal adalah buruknya sistem yang diciptakan. Mereka menjadi resisten akibat kebijakan yang diambil tidak menyentuh persoalan mereka. Jika ditambah dengan buruknya pelayanan, rendahnya tingkat kenyamanan, hingga ongkos yang terlalu mahal maka lengkap sudah.
Jakarta sudah mencoba dengan busway, kereta rel listrik dan monorel. Mesikpun saat ini menimbulkan masalah, dan protes sana-sini, namun kebijakan ini sangat proyeksional. Pengambil kebijakan sudah mengambil langkah untuk memperbaiki kondisi yang tercipta. Bangsa ini memang bangsa instan. Kebijakan hari ini pengennya dinikmati hari ini. Padahal untuk memperbaiki yang sudah mengakar, perlu waktu untuk mencabut akar tersebut.
Jakarta menjadi kota yang tidak bersahabat. Menjadi metropolis tetapi individualis. Denpasar akan mengalami hal yang sama. Anak SMA sudah membawa mobil, Fakultas Ekonomi Ekstensi memacetkan jalan di Jalan Sudirman ketika malam tiba. Deretan mobil di sepanjang Jalan Nias menyulitkan akses menuju Rumah Sakit Sanglah. Bukankah hal itu adalah sebuah masalah yang harus segera disolusikan?
Jika perbaikan terhadap sistem transportasi tidak dimulai hari ini, apakah menunggu Bali tenggelam dalam lautan kendaraan? Persoalan transportasi adalah persoalan budaya. Menciptakan transpotasi publik berarti membuka kembali komunikasi publik yang selama ini nyaris tertutup. Masyarakat tidak saling mengenal satu sama lain. Akibatnya, prinsip komunal yang selama ini lekat dengan bangsa ini semakin menjauh. Pengambil kebijakan harus mulai merancang strategi akan hal ini. Misalnya, penataan rute, perbaikan jadwal angkutan kota, pembatasan kepemilikan kendaraan pribadi dan meniru langkah Jakarta juga bisa. Tergantung bagaimana pengambil kebijakan mengkaji masalah ini.
Catat: persoalan transportasi kota adalah persoalan mendesak. Pengkajian mengenai kondisi ini harus segera dilaksanakan. Tidak perlu menunggu kehancuran, kan? (red)
Rabu, 16 Januari 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar