Ini adalah kelahiran yang salah. Terlahir bukan sebagai bayi utuh. Namun sebagai potongan-potongan daging yang terus bergerak. Dengan kidung dan mantra pangruwatan, semoga menjauh segala durjana, semoga hilang semua sial..
( Waktu Antara Kau dan Aku I, synopsis)
Secarik aksara di atas merupakan potongan dari synopsis Waktu Antara Kau dan Aku, garapan teater 108 (baca:satukosongdelapan) yang digelar Januari 2007 lalu. Di pentas ini, satu kosongdelapan mencoba untuk menawarkan bentuk proses alternatif ala karya teater modern di Bali.
Berbicara kiprah teater modern di Bali, satukosongdelapan patut diperhitungkan dalam khasanah seni peran di Bali. Sejumlah pementasan teater, entah perorangan maupun kolosal disodorkan satukosongdelapan sudah digarapnya.
Giri Ratomo merupakan awak yang bisa dibilang pentolan dari komunitas teater ini. Bersama seorang temannya Dedi Dwiyanto, Tomo-sapaannya-di tahun 2002, “merakit” perlahan cikal bakal satukosongdelapan. Awalnya bernama SatuKantong Komunitas. Baru tahun 2003, komunitas ini berganti nama menjadi satukosongdelapan, hingga saat ini.
Di komunitas satukosongdelapan Tomo beserta Dedi merancang visi untuk membangun proses teater yang segar tanpa meninggalkan tradisi seni pertunjukan yang telah ada serta membangun iklim teater modern Bali yang bergairah. Akhirnya dengan proses pergulatan kerja yang cukup alot mereka berhasil melahirkan sebuah maestro karya mereka, yakni pertunjukkan Waktu antara Kau dan Aku.
Kiprah satukosongdelapan maupun Tomo secara individual mencoba mendenyutkan kembali antusiasme dan euforia seni teater. Mengingat tak banyak teater yang secara konsisten dan giat menunjukkan karya-karya mereka di kalangan publik. Dengan kemasan yang dikolaborasikan antara perihal “kekinian” dan eloborasi seni yang inovatif, Tomo mampu memberi ruang yang berbeda bagi ruh teater modern.
“Persepsi masyarakat masih kolot akan keberadaan teater. Teater tetap dicap sebagai wahana yang tidak jelas juntrungannya kemana,” komentar lelaki bertubuh kurus ini miris. Menurutnya, kebanyakan dunia teater di Denpasar hanya diramaikan oleh teater-teater komunitas sekolah yang paling aktif mempromosikan teater.
“Kalau kita berbicara masalah untung ruginya berteater, kita bisa menawarkan kompensasi apa saja yang didapat dari berteater. Secara harfiah, teater itu khan dunia peran. Bagaimana kita memerankan tokoh-tokoh, mengekspresikannya menurut intepretasi kita dan juga menstimulasi kepekaan emosional kita. Belajar berperan juga bisa menambah kepercayaan diri kita. Nah, teater ini khan dihidupi juga dengan banyak orang. Dengan beragam karakter, beragam latar belakang dan banyak keragaman. Ketika kita sedang berkumpul, berdiskusi membahas tema toh juga akan melibatkan pandangan dan wawasan kita. jadi kita disini sama-sama belajar banyak hal,” urai Tomo panjang lebar.
Sekadar mengulas riwayat hidupnya, Tomo merupakan anak salah seorang seniman di Jawa Tengah. Ayahnya yang nyeni dan ibunya cermin wanita Jawa tempo dulu, mengalirkan kegemaran akan seni di lingkungan keluarganya. “Dulu itu waktu masih kecil saya suka ngikutin ayah untuk melukis, untuk belajar nembang, belajar gamelan dan belajar yang lain. Dulu juga saya pernah ikut pementasan Ludruk punya paman. Disana saya berperan sebagai wanita”, kenang lelaki kelahiran Karang Kemojing, 19 Desember 27 tahun lalu itu antusias.
Selama di Jawa, Tomo sempat menjadi mahasiswa Teknik Arsitektur di salah satu perguruan tinggi di Jogjakarta. Tapi di tahun 1998, Tomo memilih meninggalkan kuliahnya di Jogja dan menjadi mahasiswa di Unud Bali. “Waktu itu saya lancong ke Bali pas libur ujian. Pertama nyampe di Bali kok rasanya enak. Akhirnya saya langsung main ke kampus Unud, yang ada di Sudirman. Nah, waktu saya jalan kaki dari teminal Ubung sampai Sudirman. Lumayan jauh,” kenanginya. Akhirnya, dari kampus Unud Sudirman Tomo melanjutkan perjalan ke Bukit, dengan mengendarai angkutan umum.
Kegersangan kampus Bukit justru menarik perhatiannya. Mulai saat itu muncul kecintaannya pada Unud, ia berekspresi dengan bergiat di Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Ketika saya pertama kali saya kuliah di Bali, saya kok ngerasa dunia teater di Denpasar, utamanya di kampus kok nggak hidup”, kisahnya. Ketika itulah tercetus ide untuk membuat sebuah wadah seni, khususnya seni peran dan lahirnya Teater Orok.
Lelaki yang sedang menyelesaikan studi program Dokter Hewan ini masih banyak berharap akan konsistensi seniman-seniman Bali pada teater modern di Bali. “Jika teater di garap secara serius, ini akan memberikan banyak kontribusi positif yang sangat menguntungkan,” kelakarnya. Tomo berharap, dunia teater di Bali tidak hanya diriuhkan oleh komonitas-komunitas sekolah semata, namun juga ini catatan bagi semua pegiat teater maupun seniman di Bali untuk mencitrakan teater sebagai wadah yang tak hanya sekadar ruang antar peran belaka.
Ditha
Rabu, 16 Januari 2008
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar